PELUANG BISNIS MESIN PEMBUAT TALI RAFIA

PELUANG BISNIS MESIN PEMBUAT TALI RAFIA
Mesin pembuat tali rafia membikin plastik berasa manis
Share
dibaca sebanyak 496 kali
0 Komentar

Kebutuhan yang tinggi akan tali rafia ikut mengerek laba produsen mesin pembuat tali rafia lokal. Meski dengan harga yang lebih murah namun kualitas mesin tak kalah jauh dari mesin impor, para produsen mesin ini juga mampu memperoleh omzet hingga ratusan juta rupiah. Pembeli mesin ini tak hanya pemilik toko kelontong namun juga pemilik pabrik.

Siapa yang tidak kenal dengan tali rafia? Tali plastik berwarna-warni ini sudah akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Maklum, untuk kebutuhan ikat mengikat wadah ukuran besar tali rafia ini lebih efektif ketimbang menggunakan tali plastik atau tampar. Selain itu, harga tali ini juga murah meriah dibandingkan dengan jenis tali yang lain.

Itulah sebabnya, bisnis tali rafia juga tak ada matinya. Pengusaha kelas apa saja menggunakan tali ini untuk mempermudah pengemasan. Nah, seiring dengan larisnya tali rafia, para produsen mesin pembuatan tali ini pun merasakan kenaikan penjualan yang lumayan tinggi.

Lihat saja pengalaman Hadi Siswono, produsen mesin pembuat tali rafia di bawah CV Plastik Trimendo di Tangerang. Menurut Hadi, bisnisnya terkerek naik seiring dengan larisnya penjualan tali rafia.

Hadi mulai menekuni bisnis pembuatan mesin tali rafia sejak 2005 lalu. Sebelumnya, ia hanya membuka bengkel sepeda motor. Ide membuat mesin pembuat tali rafia ini sebenarnya datang dari teman-temannya. Bagi Hadi membuat mesin tali rafia ini juga tak susah karena dia sarjana mesin. “Awalnya, saya melihat mesin merek luar, kemudian saya modifikasi,” ujarnya.

Cara kerja mesin ini sejatinya sederhana saja, yakni mesin akan mencacah bijih plastik kering menjadi tali rafia. “Ada sistem pemanasan yang membuat biji plastik menjadi lembaran tali,” ujar Hadi.

Saat ini, dalam sebulan ia mampu memproduksi dua hingga tiga mesin berkapasitas 15 ton tali rafia. Hadi menjual mesin itu seharga Rp 40 juta hingga Rp 60 juta. Karena itu, dalam sebulan ia bisa meraup omzet hingga Rp 120 juta. “Kalau untuk mesin otomatis harganya Rp 60 juta,” ujarnya.

Hadi bilang, pembeli mesin tali rafia adalah pengusaha tali rafia di seputaran Jabodetabek dan Bandung. Pria berusia 45 tahun ini menambahkan, permintaan mesin belakangan datang dari luar Jawa. “Namun pemesanannya belum rutin,” ujarnya.

Pembuat mesin tali rafia lainnya adalah Dani Buldani pemilik CV Cahaya Tehnik di Cicalengka, Jawa Barat. Lelaki 32 tahun ini telah memproduksi mesin tali rafia sejak 2008 lalu. Menurut Dani, pemain bisnis ini masih sedikit. Selain itu, mesin tali rafia ini juga tidak diproduksi secara massal.

Namun, bagi Hadi maupun Dani mengingatkan, bagi konsumen yang ingin membeli mesin ini harus memesan terlebih dahulu. Pasalnya, pembuatan mesin memakan waktu selama satu minggu. Selain itu, pelanggan juga harus menyetor uang muka alias down payment sebesar 10% sampai 20% dari harga beli. “Setelah selesai, pelanggan kami beri tahu dan bisa mengirimkan biaya pelunasan. Setelah itu, mesin pun siap kami kirimkan,” tutur Dani.

Biasanya pelanggan Dani adalah pabrik pembuat tali rafia maupun toko grosir penjual aneka bahan plastik yang ada di Jabodetabek, Makassar, Batam. Medan, Kalimantan, Sulawesi, dan Pontianak.

Mesin pembuat tali rafia made in Dani ini dibanderol seharga Rp 40 juta, untuk mesin tali rafia ukuran kecil. Dan harga sebesar Rp 55 juta untuk satu unit mesin tali rafia besar. Dalam sebulan, Dani dengan dibantu sembilan karyawan sanggup menghasilkan hingga empat unit mesin.

Dengan begitu, omzet yang didulang pun mencapai Rp 100 juta per bulan. “Mesin buatan lokal ini memiliki cara kerja yang sama, menghasilkan kualitas yang sama dan tingkat keawetan yang sama dengan mesin impor meski harga jauh lebih murah,” pungkas Dani.

GREEN BUSINESS PENGOLAHAN LIMBAH PLASTIK JADI RAFIA
Mengikat laba dari limbah plastik yang menjadi tali rafia

Plastik adalah salah satu jenis sampah yang lama terurai oleh tanah. Namun, bagi orang yang jeli, sampah plastik yang mencemari lingkungan itu bisa menjadi pundi-pundi rupiah setelah diolah menjadi tali rafia. Selain ramah lingkungan, tali rafia dari sampah plastik itu mendatangkan omzet hampir Rp 500 juta per bulan.

Sebagian besar dari kita tentu tahu dan pernah mempergunakan tali rafia. Bahkan, bisa dibilang, tali rafia adalah tali yang paling sering kita gunakan untuk mengikat saat ini, dibanding dengan tali plastik atau tali tampar yang terbuat dari serabut kelapa.

Karena banyak digunakan itulah, tali rafia jelas punya nilai ekonomis yang tinggi. Namun, kalau kita telisik lebih jauh, tali rafia ini juga tergolong produk ramah lingkungan. Sebab, saat ini di pasaran ada tali rafia yang terbuat dari limbah plastik sisa pabrik atau limbah plastik sisa rumah tangga.

Tak percaya? Lihat saja yang dilakukan Lukas Subagio, pemilik usaha Mangun Wijaya Plastik asal Sidoarjo, Jawa Timur. Sejak 2002 silam, ia telah mendaur ulang limbah plastik itu untuk dijadikan tali rafia.

Lukas menjual tali rafia dari limbah itu dalam bentuk gelondongan. Biasanya, setelah sampai di tangan distributor, tali rafia dalam gulungan besar itu kemudian dikemas ke bentuk gulungan yang lebih kecil sebelum dilempar ke agen atau ke konsumen. “Mereka menjual kembali tali rafia itu dalam ukuran yang lebih kecil,” terang Lukas.

Tali rafia buatan Lukas itu tidak hanya dijual di sekitar Jawa Timur saja. Namun, sebagian besar lainnya telah menggelinding hingga ke Samarinda, Banjarmasin, Makassar, dan sampai Jayapura, Papua.

Namun, sebenarnya Lukas tidak menjual tali rafia dalam bentuk gulungan, namun kiloan. Harga tali rafia itu dibanderol mulai Rp 6.500 per kilogram (kg) hingga 13.500 per kg, tergantung kualitas.

Lukas menjelaskan, tali rafia berkualitas bagus produksinya bercirikan lembut, tipis, namun tetap kuat. “Kualitas menentukan harga jual,” terang Lukas.

Sedangkan tali rafia berkualitas sedang biasanya berwarna-warni, tebal, dan tidak mengilat. Adapun tali rafia berkualitas rendah memiliki ciri sama dengan tali rafia kualitas sedang, namun bedanya tali rafia kualitas rendah tidak memiliki variasi warna.

Karena berbahan baku dari limbah plastik, jelas Lukas, ia tak pernah kesulitan bahan baku. Ia secara rutin mendapat pasokan limbah plastik dari pengepul plastik bekas dari Surabaya.

Dari tangan pengepul, Lukas membeli limbah plastik itu seharga Rp 2.300–Rp 4.000 per kg, tergantung dari jenis plastik.

Menurut Lukas, plastik bekas terbaik untuk bahan baku tali rafia itu adalah limbah gelas plastik. Adapun limbah plastik kerupuk, plastik kapas, atau plastik bekas karung beras kualitasnya berada di bawah limbah plastik gelas.

Namun, Lukas ogah membeli limbah plastik yang dipulung dari tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Ia bilang, limbah plastik asal TPA memiliki aroma yang menyengat yang bisa mempengaruhi kualitas tali rafia.

Dalam memproduksi tali rafia dari limbah plastik itu, setidaknya butuh beberapa tahapan. Tahapan penting adalah pembuatan biji plastik dari campuran limbah plastik dengan polietilena (PE). Setelah itu baru tahapan pemanasan dengan oven kemudian proses cetak dengan mesin.

Lukas saat ini mampu memproduksi 2.400 kg tali rafia per hari. Seluruh produksi ia salurkan ke distributor dan agen. Dengan patokan harga Rp 6.500 per kg, Lukas setidaknya mengantongi omzet Rp 15,6 juta per hari atau Rp 468 juta per bulan.

Menurut Lukas, bisnis tali rafia tidak hanya menguntungkan dirinya saja, tetapi juga kepada pengepul limbah plastik, juga distributor, dan pedagang tali rafia. “Termasuk keuntungan untuk lingkungan,” terang Lukas.­ Ia memberi contoh, seorang agen tali rafia saja bisa mendapatkan laba Rp 1.000 dari penjualan satu kilogram tali rafia.

Pelaku bisnis lain yang mengolah limbah plastik menjadi tali rafia adalah Putranto, pemilik CV Dian Selaras di Tangerang, Banten. Sejak 2010 lalu, Putranto melihat adanya peluang bisnis tali rafia berbahan limbah plastik itu.

Dengan mengusung merek Cap Gajah, laki-laki yang kerap disapa Anton itu memiliki dua mesin produksi tali rafia masing-masing berkapasitas produksi sebanyak 6.000 kg per bulan. Sebagian besar produk tali rafia itu dijual Anton di Jakarta dan sebagian lainnya di Jawa. “Distribusi masih terbatas,” kata pria berusia 30 tahun itu.

Sama dengan Lukas, Anton juga tidak mengalami kesulitan untuk mencari bahan baku limbah plastik. Ia mendapatkan limbah plastik dari pengumpul limbah plastik di Tangerang. “Kesulitan ada pada kualitas limbah plastik yang ada di bawah kebutuhan standar,” katanya.

Namun begitu, ia berusaha untuk memaksimalkan sampah plastik yang berada di bawah kualitas standar itu. Dari kapasitas produksi 12.000 kg, Anton baru bisa produksi sebanyak 2.400 kg per bulan. “Pasar saya masih terbatas,” terang Anton.

Soal harga, Anton menjual tali rafia itu seharga Rp 8.500 per kg. Dalam sebulan Anton merengkuh omzet Rp 20 juta per bulan. “Margin keuntungan dari usaha ini cukup menarik, bisa 30% dari omzet,” ungkap Anton.

Sayang, Anton tidak bisa maksimal menjalankan bisnis karena jenis produknya masih sedikit. Namun, belakangan ini, ia sedang mempersiapkan jenis tali plastik spesifik untuk menjangkau segmen pasar tertentu. “Saya masih mempersiapkannya, karena tidak mudah untuk bersaing di Jakarta,” kata pria yang juga karyawan di salah satu perusahaan swasta itu.

Semakin erat ikatan tali, semakin lezat keuntungannya

Tali rafia memang hanya seutas tali untuk mengikat. Tapi, jangan salah, keuntungan yang diperoleh dari bisnis ini bisa berlipat. Proses produksi tali rafia juga cukup mudah. Bahan baku yang digunakan juga cukup mudah didapatkan.

Hampir setiap industri membutuhkan tali rafia untuk mengemas. Karena itu, bisnis pembuatan tali rafia selalu kebanjiran permintaan. Maklum, tidak hanya satu atau dua bidang bisnis yang menjadi pasar incaran dari para produsen tali rafia. Konsumennya juga dari pengguna rumahan sampai pengusaha pabrik.

Jumlah pengguna tali rafia yang cukup besar ini membuat nilai jual tali rafia masih tetap terjaga. Selain itu, beberapa produsen tali rafia juga meraup keuntungan. UD Nirwana Plastik, salah satu produsen tali rafia di Bogor, Jawa Barat, misalnya, mampu menghasilkan 20 ton tali setiap bulan.

Harga jual tali rafia antara Rp 7.500–Rp 8.500 per kilogram (kg), tergantung dari warna tali rafia tersebut. Sebagai contoh, harga tali rafia warna hitam Rp 7.500 per kg dan tali rafia warna lain Rp 8.500 per kg. Warna hitam jauh lebih murah lantaran tidak membutuhkan pewarna plastik.

Dewi Lestari, bagian pemasaran UD Nirwana Plastik, menjelaskan, karena harga lebih murah, permintaan tali rafia warna hitam jauh lebih banyak dari tali warna lain. “Penjualan tali rafia hitam mencapai 60% dari total penjualan, selebihnya warna lain,” tuturnya. Hitung punya hitung, total penjualan produsen ini bisa mencapai Rp 158 juta per bulan.

Kondisi serupa juga dialami oleh UD Dewi Sri yang berada di Surabaya, Jawa Timur. Penjualan tali rafia bisa mencapai 10 ton–15 ton per bulan. Harga jual produknya tidak jauh berbeda dengan Nirwana, yaitu di kisaran Rp 7.000–Rp 8.000 per kg, bergantung pada kualitas dan warna. “Harga jual tali rafia warna memang jauh lebih mahal,” tutur Setyo Sugianto, pemilik UD Dewi Sri. Tak heran, Setyo mengaku mengantongi omzet lumayan besar, rata-rata bisa Rp 100 juta–Rp 150 juta per bulan.

Marini, Manajer Pemasaran dan Produksi Sapta Sarana di Blitar, Jawa Timur, juga mengaku mendapatkan order yang cukup besar. Menurut dia, penjualan bisa mencapai 4 ton per bulan. Harga jual mulai Rp 7.650–Rp 8.000 per kg. Omzet yang mampu diraup Sapta Sarana bisa mencapai Rp 31 juta per bulan. “Bahan warnanya membuat harga tali rafia warna jauh lebih mahal,” papar Marini.

Pasar tali rafia luas

Para produsen tali rafia ini mengaku rata-rata menjual produknya ke distributor atau agen. Ada juga yang dibeli pabrik untuk pengemasan. Marini menjelaskan, rata-rata pembelinya adalah penjual telur. Maklum di Blitar, banyak penjual telur. Selain pemakai langsung, ada juga beberapa agen yang menjual tali rafia.

Penjualan tali rafia biasanya sistem gelondongan. Selanjutnya, distributor menjual secara ritel. Hanya sedikit produsen yang menjual ritel dengan kemasan kecil. “Penjualan dalam gulungan kecil-kecil seperti itu hanya untuk menambah pendapatan saja tapi itu pun tidak besar,” kata Setyo.

Kalaupun menjual dengan gulungan kecil-kecil, produsen biasanya langsung memasok ke pasar, bukan barang pesanan. Sebab, untuk mengemas tali rafia dalam bentuk gulungan kecil, butuh waktu dan tenaga. Karena itu, rata-rata produsen tali rafia melemparnya kembali ke distributor untuk menggulung dengan ukuran kecil.

Para produsen tali rafia menyatakan, permintaan tali rafia sudah mulai banyak berdatangan dari luar Jawa. Setyo memiliki konsumen dari Kalimantan dan Lombok. Nirwana Plastik juga sering mendapatkan permintaan dari Lampung, Palu, dan Palembang. Hanya saja, permintaan rutin paling banyak dari Jabotabek. Maklum, lokasi ini memang dekat dengan proses produksi.

Selain omzet yang cukup menggiurkan, keuntungan bersih yang mampu diperoleh juga lumayan. Rata-rata produsen mampu mengantongi margin bersih sekitar 20%–25%.

• Modal awal

Memulai bisnis ini sebenarnya cukup mudah. Anda tidak membutuhkan keahlian khusus. Sebab, peralatan yang wajib Anda miliki sudah bisa mengerjakan secara otomatis. Anda hanya membutuhkan beberapa karyawan untuk mengoperasikan mesin.

Ada dua tipe pembuatan tali rafia. Pertama, mulai mengolah biji plastik kemudian dijadikan tali rafia. Kedua, ada yang membeli biji plastik kemudian diolah menjadi tali rafia. Dua pola ini menentukan modal yang Anda butuhkan.

Produksi tali rafia yang mengolah sampah plastik menjadi biji plastik membutuhkan modal lebih besar. Maklum, mesin yang dibutuhkan juga lebih banyak. Nirwana Plastik mengaku membutuhkan tiga jenis mesin utama: mesin penghancur plastik, mesin pembuat biji plastik, dan mesin pembuat tali rafia.

Jelas, kalau harus membeli tiga mesin ini, modal yang harus disediakan cukup besar. Harga mesin penghancur plastik bisa sekitar Rp 10 juta. Adapun mesin pembuat biji plastik (pelet) sekitar Rp 25 juta per unit. Nah, harga mesin pembuat tali rafia sendiri sekitar Rp 60 juta–Rp 80 juta. “Tergantung kondisi mesinnya,” ujar Setyo.

Dalam sehari, satu mesin ini sebenarnya bisa menghasilkan 500 kg tali rafia. Syaratnya, karyawan bekerja dalam dua sif sehari, yaitu mulai jam 07.00 sampai 19.00, dilanjutkan dari 19.00 hingga 07.00. Tapi, rata-rata produsen menyesuaikan kapasitas produksi dengan permintaan. Artinya, mereka tidak selalu memaksimalkan kapasitas produksinya.

Kebutuhan lain yang perlu disiapkan berupa timbangan barang. Jika harus membuat biji plastik sendiri, Anda juga perlu menyiapkan blower pengering bahan baku. Total kebutuhan modal jenis usaha tali rafia dengan menghasilkan biji plastik diperkirakan sebesar Rp 150 juta, sudah termasuk pembelian bahan baku di awal usaha senilai Rp 30 juta.

Jika ingin lebih menghemat modal, Anda bisa memilih usaha tali rafia tanpa harus membuat biji plastik. Modalnya sekitar Rp 100 juta, sudah termasuk termasuk membeli bahan baku awal dengan nilai sekitar Rp 30 juta.

Sebaliknya, modal menjadi lebih besar lagi jika Anda ingin memproduksi tali rafia dalam gulungan kecil. Sebab, Anda mesti membeli mesin gulung rafia ukuran kecil seharga Rp 3,5 juta–Rp 6 juta per unit.

• Proses pembuatan

Cara membuat tali rafia sebenarnya hanyalah mengolah biji plastik dalam sebuah mesin sehingga menghasilkan tali rafia. Jika Anda memulai dari pembuatan biji plastik, Anda harus mencacah sampah plastik berupa botol plastik, atau sampah plastik yang lain. Hasil cacahan masuk ke mesin pemeletan yang akan menghasilkan biji plastik.

Biji plastik yang sudah dalam kondisi kering lantas diproses dan dimasukkan ke mesin pembuatan tali rafia. Mesin akan mengolah secara otomatis dari biji plastik menjadi tali rafia. “Di mesin tersebut ada sistem pemanasan yang membuat biji plastik menjadi lembaran tali,” kata Setyo.

• Karyawan

Jumlah karyawan yang dibutuhkan dalam pembuatan tali rafia ini tidak banyak. Jika memulai dari mengolah biji plastik, menurut Setyo, Anda cukup mempekerjakan dua hingga tiga karyawan. “Dua orang memegang mesin cetak rafia dan mesin penggulung rafia,” kata dia. Seorang lagi di bagian pengemasan. Tapi, jumlah karyawan bisa bertambah jika kapasitas produksi terus meningkat. Selain menerapkan sistem shif, bisa saja Anda menambah mesin produksi.

Sistem pembayaran karyawan bisa menggunakan sistem borongan atau harian. Setyo misalnya, membayar karyawan dengan sistem harian, yaitu Rp 45.000 per hari. Atau berdasarkan volume seperti Marini di Blitar yang membayar pegawai Rp 175 per kg. Kalau Dewi, membayar Rp 500 per kg.

sumber

http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1324274846/85551/Semakin-erat-ikatan-tali-semakin-lezat-keuntungannya-

http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1317631295/78936/Mengikat-laba-dari-limbah-plastik-yang-menjadi-tali-rafia-

About these ads

Tentang Admin

Anak manusia yang sedang memulai usaha.. ice cream keliling... Moga-moga bisa keliling Indonesia atau dunia... kali ya...
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag . Tandai permalink.