Gurihnya Bisnis Lobster Air Tawar

Senin, 27/12/2010 10:10 WIB
Gurihnya Bisnis Lobster Air Tawar
Ninik Setrawati – detikFinance

<p>Your browser does not support iframes.</p>

Jakarta – Lahan pekarangan rumah sempit tak membatasi kreatifitas Fahdiansyah Rambe,  untuk membuat suatu usaha yang mendatangkan nilai ekonomis. Dengan memanfaatkan pekarangan rumahnya, sarjana teknik kini mempunyai 15 kolam yang digunakan untuk bisnis lobster air tawar.

Untuk memulai usahanya pada tahun 2005, Fahdiansyah mengeluarkan modal awal sebesar Rp 5 juta. Modal tersebut digunakan untuk membeli indukan lobster air tawar Walkamin dari Pasar Pramuka Jakarta Timur, seharga Rp 4 juta yang berisi 30-40 ekor indukan. Selain itu juga untuk membeli seperangkat aquarium (ukuran 100x50x25 cm), aerator, pipa, dan selang.

Fahdiansyah membenihkan lobster di kolam yang terdapat di pekarangan rumahnya, sedangkan untuk pembesarannya dilakukan di 6 kolam masing-masing seluas 100 m2 yang ia sewa di daerah Ciampea-Bogor sebesar Rp 100 ribu per bulan/kolam.

Dalam satu bulan, Fahdiansyah bisa menghabiskan sekitar Rp 1,8 juta untuk membeli pakan lobster berupa cacing sutra dengan harga Rp 10 ribu per liter dan pelet merek Pokphand seharga Rp 230 ribu per karung isi 25 kg.

Untuk mencegah penyakit yang sering menyerang benih lobster seperti parasit, Fahdiansyah cukup dengan memberikan makanan yang sesuai, menjaga kualitas air yang baik, serta oksigen yang cukup di dalam air.

Pemasaran dilakukan Fahdiansyah melalui internet dan memasang iklan di majalah atau Koran. Untuk benih dan indukan, ia pasarkan ke pembenih dan pembesar. Sedangkan untuk lobster komsumsi, ia tawarkan ke hotel atau restoran.

Ketika disinggung mengenai kendala usaha, Fahdiansyah mengungkapkan bahwa masalah utamanya terletak di pemasaran, sama seperti usaha lainnya.

“Jika ingin membenihkan atau membesarkan lobster air tawar, maka carilah banyak teman. Kita tidak bisa “bermain” sendiri jika ingin sukses karena pada dasarnya semua bisnis pasti membutuhkan banyak mitra,” tambah Fahdiansyah beberapa waktu lalu.

Usahanya kini berbuah manis. Banyak hotel dan restoran di Jakarta dan Balikpapan yang menjadi pelanggan setianya. Saat ini, Fahdiansyah bisa menjual 3 ribu ekor bibit lobster air tawar per bulan, 65 kg lobster siap konsumsi per minggu, dan 15 set indukan per bulan.

“Saya yakin, suatu saat nanti lobster air tawar akan menggantikan posisi lobster air laut,” ungkap Fahdiansyah.

Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah pesanan, baik untuk benih maupun konsumsi. Fahdiansyah juga menambahkan bahwa peluang bisnis untuk pembenihan dan pembesaran lobster air tawar masih terbuka.

Selain memakai kolam, pembenihan lobster juga bisa dilakukan di dalam aquarium, bak fiber, atau kolam semen. Peralatan yang digunakan pembenihan di aquarium berupa potongan pipa ukuran 5-10 cm dan jaring. Sementara itu, untuk pembenihan di bak fiber dan kolam semen, selain memakai potongan pipa dan jaring, juga menggunakan genteng dan batu roster.

Batu roster, genteng, jaring, dan potongan pipa digunakan sebagai tempat persembunyian. Jika tidak ada tempat bersembunyi, maka lobster akan menyerang satu dengan yang lainnya.

Untuk pembenihan yang dilakukan di dalam aquarium (ukuran 100x50x25 cm), idealnya berisi 1 set induk lobster. Jika dilakukan di kolam semen (ukuran 2×1 m), berisi 5 set indukan lobster. Semakin banyak jumlah set indukan yang ditempatkan dalam satu kolam, maka akan semakin bagus karena sifat lobster betina yang sangat selektif dalam memilih pejantan. Jika dalam satu kolam terdapat banyak pejantan maka kemungkinan terjadinya perkawinan juga semakin besar.

Proses perkawinan terjadi setelah 2-3 minggu. Ciri induk betina yang sedang bertelur adalah ekornya akan melengkung hingga kaki pertamanya. Jika sudah terlihat tanda-tanda induk bertelur, segera pindahkan ke aquarium lainnya. Usahakan 1 aquarium (ukuran 100x50x25cm) hanya berisi 1 induk betina. Hal ini bertujuan untuk menghindari pertengkaran antara lobster betina yang dapat mengakibatkan kerontokon telur.

Induk lobster betina bisa menghasilkan 200-300 telur lobster. Proses pengeraman telur membutuhkan waktu 30-35 hari dan untuk penetasan telur lobster membutuhkan waktu 3-4 hari. Setelah telur menetas, segera ambil induknya. Jika induk tidak diambil lebih dari seminggu, maka lobster induk akan memangsa anaknya sendiri.

Setelah induk dipisahkan dari anaknya, pisahkan induk dari lobster dewasa lainnya. Untuk proses perkawinan selanjutnya, tunggu selama minimal 2 minggu atau sampai berganti kulit. Induk lobster air tawar bisa hidup sampai umur 3-4 tahun dengan panjang 20-25 cm dan berat mencapai 0,5 kg. Pada usia itu, lobster akan semakin banyak menghasilkan telur, bahkan jumlahnya bisa mencapai hingga ribuan.

“Semakin tua lobster, maka jumlah telurnya akan semakin banyak, karena badannya semakin besar, kuat, dan panjang,” ungkap Fahdiansyah.

Setelah telur menetas menjadi benih, sebulan kemudian pilah benih dan pisahkan sesuai ukurannya lalu pindahkan dari aquarium ke kolam semen. Kolam semen lebih bagus untuk pembenihan karena naik turunnya suhu dalam kolam semen tidak terlalu drastis. Suhu yang sesuai untuk benih lobster air tawar
adalah 25-30 oC.

Dua bulan kemudian, benih lobster yang perkembangannya bagus akan berukuran 5 cm dan siap untuk dijual. Lamanya waktu usaha pembenihan secara keseluruhan sekitar 6 bulan dari mulai proses perkawinan indukan sampai umur benih mencapai 2 bulan. Resiko kematian benih saat pemeliharan sekitar 20%.

Berikan makan berupa pelet khusus lobster sehari 2 kali, yaitu pagi (pukul 07.00-09.00) dan sore (pukul 17.00-20.00). Porsi ideal untuk makan pagi 1 ekor benih lobster adalah seperempat sendok teh pelet dan untuk makan sore sebanyak setengah sendok teh. Selain pelet, juga bisa diberikan sayuran (misalnya tauge dan wortel) dan protein segar (misalnya cacing sutra dan cacing beku).

Untuk Cacing Sutra atau beku, biasanya 1 liter cacing  bisa dihabiskan dalam waktu 1 minggu untuk 1000 benih lobster. Untuk pembenihan lebih dianjurkan diberi pakan cacing karena kadar proteinnya tinggi.

Untuk penyakit yang biasanya menyerang benih lobster adalah parasit yang hidup di kepala dan badan lobster. Parasit tersebut berwarna putih susu dan bisa berkembang biak di dalam tubuh dan kepala lobster. Ciri lobster yang terkena parasit adalah nafsu makannya berkurang dan tidak lincah sehingga bisa mengakibatkan kematian.

Cara Untuk mengatasinya, Fahdiansyah biasanya merendam benih lobster yang terkena penyakit pada air garam dengan kadar garam 30 ppt. Caranya rendam benih lobster dalam air tersebut selama 10-14 hari dan setiap 3-4 hari sekali ganti air dengan air garam yang baru. Saat direndam, biasanya benih lobster akan melompat-lompat dan pada saat melompat itulah telur parasit akan mati.

Yang harus diperhatikan dalam pembenihan lobster adalah pemberian makan dan kualitas air. Fahdiansyah biasanya mengganti air sebulan sekali, namun, penggantian air bisa lebih cepat atau lebih lama dari yang diperlukan, tergantung dari tingkat kotoran dalam air.

Jika kadar kotoran sisa makanan lebih besar dibandingkan kotoran dari bibit lobster, maka air akan beracun dengan ciri warna air berubah menjadi keruh dan baunya tak sedap. Racun tersebut dihasilkan dari sisa makanan yang membusuk dalam air. Oleh sebab itulah usahakan agar makanan selalu habis untuk sekali makan sehingga tidak meninggalkan sisa dalam air.

Asumsi bisnis lobster ala  Fahdiansyah per bulan, dengan ilustrasi modal awal Rp 5 Juta, biaya pembenihan dan pembesaran Rp 1,8 juta ditambah biaya operasional Rp 3,4 juta. Jika omset mencapai Rp 50 juta dengan asumsi penjualan bibit lobster hingga 3000 bibit (Rp 1400 per bibit) per bulan seharga Rp 4,2 juta, penjualan lobster konsumsi 260 ekor (Rp 150.000 per lobster) total mencapai Rp 39 juta dan penjualan induk lobster sampai 15 set (Rp 450.000) total senilai Rp 6,7 juta maka sudah dipastikan uang puluhan juta masuk kantong anda.

Fahdiansyah Rambe

Islamic Lobster Center (ILC)
Komplek Islamic Village
Jl. Korma Raya, No. 4 Kelapa Dua, Karawaci-Tangerang 15430
Email: Lobster_ILC2280@yahoo.co.id
(hen/hen)

Dipublikasi di Life, Mesin Ice cream, mesin industri, UKM, mesin perta | Tag

Ketika Anda Harus Membayar 100 Ribu Rupiah untuk Sepiring Nasi

Ketika Anda Harus Membayar 100 Ribu Rupiah untuk Sepiring Nasi

Sun, 05/31/2009 – 22:28
dunkz's picture

Terkadang jika sedang bosan makan siang di kantor, saya pergi ke warteg yang ada di belakang kantor saya. Makanan favorit saya adalah sayur lodeh dengan telur dadar dan ditambah dengan tahu tempe dan sambal. Dengan lauk seperti itu, saya harus membayar sekitar 6 – 8 ribu rupiah.  Jika ditambah dengan ayam goreng mungkin harga yang harus saya bayar menjadi sekitar 10 ribu rupiah.  Apakah Anda masih ingat berapa harga yang harus Anda bayarkan untuk lauk yang sama 2 – 3 tahun yang lalu. Hampir pasti tentu lebih murah. Mungkin dahulu sepiring makan siang dengan lauk-pauk seperti itu harganya hanya 5 ribu rupiah.

Mungkin sampai sini Anda sudah bisa menerka apa yang akan kita bicarakan. Ya, saya ingin berbicara mengenai inflasi. Selama kita menggunakan uang kertas, selama itu pula kita akan menyaksikan harga akan naik setiap tahunnya. Berikut adalah data tingkat inflasi di Indonesia selama 28 tahun terakhir:

 

Sumber: IMF, World Economic Outlook Database, April 2009

 

Dari tahun 1980 hingga 2008, tingkat inflasi tahunan rata-rata di Indonesia adalah 11,1%. Dalam kurun waktu tersebut, tingkat inflasi tertinggi terjadi pada tahun 1998, yaitu 77,5% yang disebabkan oleh krisis moneter yang melanda negeri ini.

Saat ini mungkin kita sedang dalam masa produktif dan sedang bekerja/berwirausaha. Jika Anda pegawai kantoran, Anda bisa berharap untuk mendapatkan uang pensiun. Pernahkah Anda membayangkan apa yang Anda hadapi saat masa pensiun menjelang?

Katakanlah Anda saat ini berusia 30 tahun. Anda masih memiliki 25 tahun masa kerja sebelum pensiun. Dengan asumsi tingkat inflasi rata-rata adalah 11,1% maka harga sepiring nasi yang sekarang adalah 8 ribu rupiah akan menjadi sekitar 111 ribu rupiah. Terlihat fantastis? Menurut saya itu realistis. Kita baru berbicara masalah makan siang. Jika saat ini kebutuhan hidup bulanan adalah 5 juta rupiah, maka saat Anda pensiun, Anda membutuhkan dana 70 juta rupiah per bulan hanya untuk menjaga agar strandar hidup Anda tidak turun. Silakan mencari tahu mengenai program pensiun yang Anda ikuti saat ini. Berapakah yang akan Anda dapatkan saat pensiun nanti. Apakah jumlah tersebut akan dapat memenuhi kebutuhan hidup Anda nantinya?

Sepertinya sebagian besar akan menjawab tidak :D
Sebaiknya kita jangan menyalahkan pemakaian uang kertas yang menyebabkan inflasi. Akan lebih bermanfaat bagi kita untuk memikirkan bagaimana caranya mengalahkan inflasi. Anda bisa saja merampok bank dan memperoleh uang yang cukup sampai anak cucu, akan tetapi tentu saja tidak disarankan karena Anda bisa masuk penjara :). Cara yang lebih tepat adalah berinvestasi atau lebih tepatnya berinvestasi yang returnnya dapat mengalahkan tingkat inflasi. Investasi apa saja? Banyak alternatifnya. Bisa saham, obligasi, atau mungkin tanah. Return dari instrumen-instrumen tersebut biasanya dapat mengungguli tingkat inflasi. Sebagai contoh, dalam jangka panjang harga saham akan naik sesuai dengan pertumbuhan ekonomi. Logikanya, semakin tinggi tingkat inflasi, maka perusahaan akan dapat menjual barang dengan harga yang lebih tinggi kan? Oleh karenanya dengan adanya inflasi saja harga saham akan cenderung naik.

Bagi saya, investasi saja belum cukup. Kita harus lebih fokus lagi dengan membuat suatu perencanaan investasi agar tujuan-tujuan keuangan kita dapat tercapai. Rasanya petuah orang tua kita dahulu untuk menabung ada benarnya, namun sayangnya dengan menabung saja kita akan kesulitan menghadapi laju inflasi. Mari berpindah dari budaya menabung ke budaya berinvestasi!

http://www.portalreksadana.com/node/378

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tag , ,

2010 in review Restomesin

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 90,000 times in 2010. If it were an exhibit at The Louvre Museum, it would take 4 days for that many people to see it.

 

In 2010, there were 50 new posts, growing the total archive of this blog to 160 posts. There were 33 pictures uploaded, taking up a total of 4mb. That’s about 3 pictures per month.

The busiest day of the year was September 28th with 514 views. The most popular post that day was Bubuk dan Cone Ice Cream .

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were search.conduit.com, google.co.id, menteridesainindonesia.blogspot.com, yusaksunaryanto.wordpress.com, and id.wordpress.com.

Some visitors came searching, mostly for ice cream, garuda pancasila, cara membuat yoghurt, es krim, and garuda.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Bubuk dan Cone Ice Cream July 2008
60 comments

2

Mesin Lain2 October 2008
69 comments

3

Mesin Ice Cube/ Es Batu September 2008
58 comments

4

ICE PACK Penganti Es Batu January 2009
32 comments

5

Analisa bisnis Ice Cream July 2008
24 comments

Dipublikasi di Tak Berkategori

15 Tokoh UKM Dapat Penghargaan dari SBY

Senin, 20/12/2010 13:06 WIB
15 Tokoh UKM Dapat Penghargaan dari SBY
Luhur Hertanto – detikFinance

<p>Your browser does not support iframes.</p>

Jakarta – Selain industi berskala besar, sejumlah industri kecil dan menengah (IKM) juga mendapat penghargaan nasional. Termasuk kepada individu yang berperan positif terhadap peningkatan keberhasilan IKM.

Penghargaan juga disampaikan langsung oleh Presiden SBY. Acara berlangsung di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta, Senin (20/12/2010).

Untuk kategori IKM modern 2010, ada 5 penerimanya. Mereka IKM yang dinilai telah menerapkan teknologi modern dalam proses produksi sehingga lebih efisien dan menghasilkan nilai tambah.

Mereka adalah:

  1. PT Sarandi Karya Nugraha, Sukabumi, Jabar.
  2. PT Mitrasukses Engineering Indonesia, Pasuruan, Jatim.
  3. CV Karya Baru, Lampung Timur, Lampung.
  4. PT Mangkupalas Mitra Makmur, Samarinda, Kaltim.
  5. PT Wieda Sejahtera, Jakarta Timur.

Untuk penghargaan Kreasi Prima Mutu, ada 4 IKM yang mendapat penghargaan. Ini adalah IKM yang dinilai telah menerapkan system kendali mutu secara konsisten.

Empat IKM penerimanya adalah:

  1. CV Mendong K. Craft, Tasikmalaya-Jabar, untuk produk kerajinan anyaman mendong.
  2. UD Tri Mulia Onix, Tulungagung-Jatim, untuk produk kerajinan dari batu marmer dan granit.
  3. IKM Sanggalea, Wajo-Sulsel, produsen roti.
  4. IKM Fetra, Biaro-Sumbar, untuk produk perlengkapan bayi.

Penghargaan berupa Upakarti 2010 di kategori Jasa Pengabdian, diberikan kepada lima individu. Mereka berasal dari dalam dan luar IKM yang dinilai berjasa luar biasa dalam pengembangan IKM di daerah masing-masing.

Mereka adalah:

  1. Hj. Syarifah dari Lingga, Riau.
  2. I.N. Widiartha dari Kupang, NTT.
  3. I Gusti Kade Djaya dari Tabanan, Bali.
  4. Pastor Jacques dari Sintang, Kalbar.
  5. Sendy Ramania Wurandani dari Bandung, Jabar.

Upakarti jasa kepeloporan, tahun ini diberikan kepada lima orang yang berhasil mengembangkan IKM. Mereka adalah:

  1. H. Wardono dari Surakarta, Jateng.
  2. Budi Wibowo dari Purbalingga, Jateng.
  3. Tentrem Sri dari Bengkulu.
  4. H. Ade Hikmat Nugraha dari Sukabumi, Jabar.
  5. Habib Saleh Al Mahdali dari Palu, Sulteng.

Upakarti kategori Jasa Pelestarian tahun ini juga ada lima orang yang menerimanya. Mereka yang dinilai berhasil mengembangkan kembali desain industri kecil di tingkat lokal dan nasional itu adalah:

  1. Mateus Ala dari Melawi, Kalbar.
  2. Uswatun Chasanah dari Tuban, Jatim.
  3. M. Rivai Navis dari Senggau, Kalbar.
  4. Sandiyo dari Klaten, Jateng.
  5. Santoso Hartono dari Rembang, Jateng.

(lh/dnl)

Dipublikasi di Life, Mesin Ice cream, mesin industri, UKM, mesin perta, Mesin Lainnya | Tag

Dukung Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso Indonesia (Apmiso) menjadikan BAKSO sebagai menu jamuan kenegaraan Presiden Obama.

Dukung Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso Indonesia (Apmiso) menjadikan BAKSO sebagai menu jamuan kenegaraan Presiden Obama.

 

Jumat, 05/11/2010 11:07 WIB
Pedagang Bakso Lobi Chairul Tanjung Soal Bakso Obama
Suhendra – detikFinance

<p>Your browser does not support iframes.</p>

Foto: AFPJakarta – Semangat para pedagang bakso yang ingin menyajikan racikan bakso Indonesia kepada Presiden AS Barack Obama belum surut. Segala cara pun ditempuh, termasuk ‘melobi’ para orang-orang terkenal dan berpengaruh di Indonesia.

Ketua Umum  Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso Indonesia (Apmiso) Trisetyo Budiman mengatakan, para pedagang bakso sudah melobi pemilik Para Group Chairul Tanjung yang juga Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN). Ia berharap pemilik 40% saham Carrefour Indonesia ini menepati janjinya soal dukungan penyajian bakso ke Obama.

“Chairul Tanjung sudah saya SMS, tapi nggak respons. Beberapa waktu lalu dia janji, di acara pembukaan pojok UKM di Carrefour yang dikunjungi tujuh menteri, dia bilang  Oh iya-iya,” kata Tri kepada detikFinance, Jumat (5/11/2010).

Tri juga mengatakan para pedagang bakso melalui Apmiso sudah mencoba menggandeng beberapa tokoh lainnya seperti Mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, Menteri UKM dan Koperasi Syarief Hasan dan lain-lain. Namun lagi-lagi para pedagang bakso harus menelan pil pahit.

“Kami juga sudah menyampaikan hal ini kepada kepala rumah tangga presiden, tapi belum ada tanggapan,” katanya.

Dikatakannya ,kunjungan Obama ke Indonesia harus bisa bermanfaat bagi kelompok marginal seperti pedagang bakso yang berjumlah 4 juta-an orang. Menurutnya momen seperti ini akan susah terulang kembali dalam waktu dekat.

“Tapi kalau memang pemerintah tak memberikan keberpihakan, ora opo-opo, tukang bakso tetap  jalan kok,” katanya.

Menurut Tri setidaknya ada 4 alasan mengapa pihaknya ngotot ingin menyajikan bakso Indonesia kepada Presiden AS yang pernah tinggal di Indonesia tersebut.

Alasan pertama, pihaknya berkeyakinan bahwa Obama menyukai makanan bakso sejak kecil. Selain bakso, Obama juga menyukai nasi gorang dan sate.

“Kita sebagai tuan rumah, ingin merespons keinginan dia,” katanya.

Sementara alasan kedua, lanjut Tri, terkait hajat hidup orang banyak yaitu jutaan pedagang bakso di seluruh Indonesia yang memerlukan dukungan dari banyak pihak.

Ketiga, bakso perlu branding dan promosi global  layaknya mie Vietnam yang dimakan oleh Mantan Presiden AS Bill Clinton saat datang ke Vietnam. Sehingga mie Vietnam menjadi terkenal ke seluruh dunia.

Keempat, yaitu alasan bahwa Obama merupakan sosok yang memperjuangkan kelompok yang termarginalkan. Ia mencontohkan kegagalan Obama datang ke Indonesia pada Maret 2010 lalu karena sedang digodoknya UU Kesehatan yang menyangkut kelompok marginal di AS.

“Obama sebagai sosok yang memperjuangkan orang yang termarginalkan, seperti pedagang bakso ini,” katanya.

Seperti diketahui pedagang bakso yang tergabung dalam Apmiso akan kembali mewacanakan memberikan menu spesial bakso Indonesia kepada Presiden AS Barack Obama. Para pedagang bakso memberikan menu bakso spesial dalam rangka menyambut kedatangan Obama ke Indonesia tanggal 9 November 2010 nanti.

Sebelumnya, Apmiso bersikeras akan menghidangkan makanan bakso kepada Presiden AS Barack Obama pada rencana kunjungan 20-22 Maret 2010. Pada saat itu, para pedagang bakso harus gigit jari karena Obama batal datang termasuk rencana kunjungan Obama yang kedua. Para pedagang bakso itu juga terbentur protokoler Istana Negara.

Pedagang mie dan bakso optimistis jika presiden yang pernah tinggal di Indonesia itu bersedia memakan bakso Apmiso maka akan mendongkrak citra bakso dan sekaligus mendongkrak omset pedagang mie dan bakso lokal yang saat ini mencapai triliunan rupiah per hari.

Seperti diketahui, Gedung Putih mengumumkan bahwa Presiden AS Barack Obama akan berkunjung ke Indonesia pada 9 November 2010 mendatang. Ibu Negara AS Michelle Obama akan menyertai suaminya dalam kunjungan ke Indonesia.
(hen/qom)

Dipublikasi di Life, Mesin Ice cream, mesin industri, UKM, mesin perta, Mesin Lainnya, Tak Berkategori | Tag

Usaha Mikro Dibawah Rp.50jt tidak Wajib SIUP


Ini awalnya adalah kedatangan tamu oknum dari dinas pemda yang mampir di lapak aku jualan bakso…
setelah makan dia langsung nanya “Punya SIUP gak usaha ini..? ucapnya kepada SPG warung..
Untung SPG warung sigap jawab ..Iya pak lagi diurus..”
Kemudian si Oknum ngeluarin Kartu nama disitu tertulis ” Bagian Perijinan”
Wah gini ya mau usaha aja udah langsung didatangi oknum …
Gimana Indonesia maju…
Akhirnya tanya lah sama mbah Google…
hasilnya ternyata Usaha dengan yang memiliki nilai kekayaan bersih sampai denganRp.50jt tidak wajib SIUP  namun boleh meminta SIUP Mikro Gratis lagi….
ha… ha…ha… Aman ternyata Amin….
Ini sesuai aturan baru dari bu menteri perdagangan…Nomor:46/M-DAG/PER/9/2009 tetang Perubahan atas peraturan menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 36/M-DAG/PER/9/2007 tentang Penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan…
Jadi bagi pengusaha baru dan anda masih memiliki kekayaan bersih sampai Rp.50 jt jangan mau di permainkan Oknum Perijinan
dan rata-rata Perda daerah kota/kab sudah mengacu pada Permendag tersebut
Semoga Bermanfaat
Salam sukses

Perubahan Klasifikasi Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP)

Posted on 13 July 2010


“Bu, kok SIUP Perusahaan saya berubah menjadi SIUP Kecil? Kan modal perusahaan saya Rp. 450jt?” atau “Wah,.. kok dulu perusahaan saya masuk kategori perusahaan besar, tapi begitu dilakukan perpanjangan SIUP, kenapa keluarnya menjadi SIUP Menengah ya?”  Berbagai pertanyaan serupa terlontar dari para pengusaha yang mengalami penurunan kelas perusahaan setelah melakukan permohonan SIUP baru atau melakukan perpanjangan SIUP.

Hal ini terjadi sejak berlakunya PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA, tanggal 16 September 2009, No. 46/M-DAG/PER/9/2009 (untuk memudahkan kita sebut “Permendag 46” saja ya), yang mulai diberlakukan efektif sejak tanggal 1 Juli 2010. Permendag 46 ini merupakan perubahan dari PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA No. 36/M-DAG/PER/9/2007 tanggal 4 September 2007, tentang Penerbitan Surat Ijin Usaha Perdagangan.

Sekedar kilas balik, berdasarkan PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA No.9/M-DAG/PER/3/2006, terhadap SIUP diberikan kelasifikasi sebagai berikut:

  1. SIUP Kecil (Warna Putih), diberikan untuk Perusahaan dengan kekayaan bersih kurang dari Rp. 200jt

2. SIUP Menengah (warna biru) diberikan untuk Perusahaan dengan
kekayaan bersih di atas Rp.200jt sampai dengan Rp. 500jt

3. SIUP Besar (Warna Kuning) diberikan untuk Perusahaan dengan
kekayaan bersih di atas  Rp.500jt

4. SIUP PT. Tbk (warna hijau) diberikan untuk Perusahaan yang
menjual sahamnya pada masyarakat  lebih dari 49% dari total saham
yang dikeluarkan oleh Perusahaan tersebut.

Klasifikasi tersebut sekarang sudah mengalami pergeseran. Berdasarkan Pasal 3 ayat 1,2, dan 3 Permendag 46 tersebut, klasifikasi Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) yang diterbitkan oleh Kementrian Perindustrian, Usaha Kecil dan Menengah di ubah menjadi sebagai berikut:

1. Klasifikasi Perusahaan Kecil, adalah  untuk perusahaan dengan kekayaan bersih lebih dari Rp. 50jt sampai dengan maksimum Rp. 500jt; tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha

2. Klasifikasi Perusahaan Menengah, adalah perusahaan dengan kekayaan bersih lebih dari Rp. 500jt sampai dengan maksimum Rp. 10 Milyar; tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha

3. Klasifikasi Perusahaan Besar adalah perusahaan dengan kekayaan bersih lebih dari Rp. 10 Milyar (tidak termasuk tanah dan bangunan serta tempat usaha).

Bagaimana dengan perusahaan yang kekayaan bersihnya kurang dari Rp. 50jt? Dalam pasal 2 ayat 3 Permendag tersebut disebutkan bahwa selain 3 klasifikasi di atas, maka perusahaan dengan kekayaan bersih kurang dari Rp. 50jt masuk ke dalam kategori Perusahaan Perdagangan Mikro, dan karenanya akan diberikan SIUP MIKRO.

Apa yang dimaksud dengan “Kekayaan Bersih” Perusahaan? Apakah dilihat dari jumlah modal yang disetorkan, ataukah dilihat dari Modal Dasarnya?

Jadi begini, masyarakat sering keliru menganggap bahwa yang dianggap sebagai kekayaan bersih suatu perusahaan adalah Modal Dasar suatu perusahaan. Padahal tidak demikian adanya. Yang dimaksud sebagai “Kekayaan Bersih” suatu perusahaan adalah nilai aktiva riel perusahaan; yaitu total asset perusahaan dikurangi dengan nilai tanah dan bangunan yang digunakan sebagai tempat usaha serta dikurangi pula dari kewajiban (hutang) perusahaan kepada orang/pihak lain.

Dalam praktek di lapangan, kekayaan bersih perusahaan oleh petugas secara garis besarnya ditentukan dari besarnya modal disetor ke dalam kas Perusahaan. Karena, dari besarnya modal dasar hanyalah merupakan perkiraan dari para pemegang saham ataupun para pendiri Perusahaan, untuk melakukan suatu usaha. Oleh karena itu, kadang diperbolehkan besarnya modal disetor Perusahaan lebih kecil dari besarnya modal dasar suatu Perusahaan. Namun demikian, batas rasionya adalah maksimum 25% dari modal dasar tersebut.

Dalam Permendag 46 tersebut ditegaskan pula bahwa perhitungan kekayaan bersih tersebut tidak termasuk nilai dari tanah dan bangunan tempat usaha dari Perusahaan tersebut.

Sebagai contoh:

Perusahaan ABC memiliki Modal dasar sebesar Rp. 15 Milyar. dari sejumlah tersebut, sebesar Rp. 6 Milyar merupakan Modal disetor PT. ABC, dan sebesar Rp. 6 Milyar merupakan Tanah dan bangunan yang digunakan sebagai kantor dan gudang dari PT. ABC tersebut dan PT. ABC memiliki hutang kepada BANK sebesar Rp. 1 Milyar. Dalam kondisi demikian, maka PT. ABC tersebut tetap hanya dapat diberikan SIUP dengan klasifikasi Menengah (SIUP Menengah), karena kekayaan bersih dari PT. ABC tersebut diluar tanah dan bangunan dimaksud hanyalah sebesar Rp. 5 Milyar.

Kapan Mulai Berlakunya?

Permendag 46 ini sebenarnya sudah dikeluarkan tanggal 16 September 2009, dan dinyatakan berlaku 60 hari sejak tanggal ditetapkan (artinya tanggal 15 Nopember 2009. Namun demikian dalam Surat edaran pada Kantor Kementrian Perdagangan dinyatakan bahwa Permendag 46 ini baru efektif berlaku sejak tanggal 1 Juli 2010. Untuk perusahaan yang sebelumnya sudah memperoleh SIUP dengan klasifikasi sesuai dengan Permendag No.9,  SIUPnya masih tetap berlaku sampai dengan masa pendaftaran ulang berakhir. Jadi, perubahan klasifikasi SIUP nya dapat disesuaikan pada saat jatuh tempo SIUP tersebut.

Untuk Perusahaan yang ingin melakukan “kegiatan usaha terkait dengan kelas SIUP” (dalam hal ini antara lain untuk pelaksanaan tender yang menentukan kelas2 SIUP), maka harus melakukanp penyesuaian terlebih dahulu, baru bisa ikut kegiatan dimaksud.

Untuk perusahaan yang sudah membuat akta pendirian PT, namun belum mengajukan permohonan SIUP tersebut, maka klasifikasi tersebut langsung diberlakukan pada waktu permohonan SIUP.

Sebagai Contoh Kasus:

PT. XYZ memiliki kekayaan bersih Rp. 550jt. Berdasarkan Permendag  No. 9, dia memperoleh SIUP dengan kalsifikasi Besar. Namun berdasarkan Permendag 46, PT. XYZ masuk dalam klasifikasi Menengah. Jika PT. XYZ tersebut ingin tetap masuk dalam klasifikasi perusahaan besar, maka PT. XYZ harus menambah modal disetornya menjadi di atas Rp. 10 Milyar, atau PT. XYZ tersebut merubah klasifikasi Perusahaannya menjadi klasifikasi perusahaan menengah.

(BERSAMBUNG: “Bentuk Usaha Yang Dikecualikan terhadap kewajiban Memiliki SIUP”)

Bentuk Usaha Yang Dikecualikan Terhadap Kewajiban Memiliki SIUP

Posted on 14 July 2010 by Irma Devita

Seorang pedagang makanan yang membuka toko di PD pasar Jaya pernah bertanya, “Apakah saya perlu memiliki SIUP?” Demikian pula seorang pengusaha catering rumahan ataupun pengusaha salon maupun pengusaha rental VCD juga pernah mempermasalahkan mengenai perlu tidaknya mereka memiliki SIUP.

Sebenarnya, siapa saja ya yang diberikan kewajiban untuk memiliki SIUP?

Pada dasarnya semua perusahaan diwajibkan memiliki Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) dalam melaksanakan usahanya. Namun demikian, dalam PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA No.46/M-DAG/PER/9/2009 yang ditetapkan pada tanggal 16 September 2009  (Permendag 46), terdapat pengecualian terhadap kewajiban untuk memiliki SIUP tersebut, yaitu terhadap:

1. Perusahaan yang melakukan kegiatan usaha di luar sector perdagangan

2. Kantor Cabang atau Kantor Perwakilan

Cabang perusahaan atau perwakilan perusahaan tersebut cukup menggunakan SIUP dari Kantor Pusatnya, dengan cara melegalisir fotocopy SIUP Kantor Pusat pada instansi penerbit, dan selanjutnya mendaftarkannya ke instansi setempat yang terdapat di lokasi kantor cabang tersebut didirikan.

3. Perusahaan Perdagangan Mikro dengan criteria sebagai berikut:

a. usaha perseorangan atau persekutuan

yang dimaksud “tidak berbadan hukum” adalah tidak berbentuk badan hukum tertentu, seperti misalnya PT, yayasan ataupun Koperasi, Firma, Persekutuan Perdata (maatschap) melainkan hanya berbentuk perusahaan perorangan seperti UD, PD dan yang sejenis.

b. Kegiatan usaha di urus, dijalankan, atau dikelola oleh pemiliknya atau anggota
keluarga/kerabat terdekat; dan

c. memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50jt tidak termasuk tanah dan bangunan.

Walaupun dikecualikan terhadap kewajiban memiliki SIUP, namun apabila dikehendaki, perusahaan-perusahaan tersebut dapat mengajukan permohonan untuk memiliki SIUP MIKRO yang berwarna hijau. Mengenai klasifikasi warna tersebut, juga terjadi perubahan, dimana pada PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA No. 9/M-DAG/PER/2006 disebutkan bahwa warna hijau tersebut justru diberikan kepada PT Terbuka yang menjual lebih dari 49% sahamnya kepada masyarakat.

Satu hal yang menarik lainnya adalah: pada Permendag 46 tersebut, untuk pengajuan permohonan SIUP MIKRO untuk pertama kalinya pada Kementrian Perdagangan tersebut tidak dikenakan retribusi apapun.  Semoga nantinya dalam praktek tetap demikian adanya.

Sumber :

http://irmadevita.com/2010/perubahan-klasifikasi-surat-ijin-usaha-perdagangan-siup

Dipublikasi di Life, Mesin Ice cream, mesin industri, UKM, mesin perta, Tak Berkategori | Tag ,

Pasar Kopi Luwak ‘Segelap’ Warna Kopinya

Senin, 11/10/2010 08:41 WIB
Pasar Kopi Luwak ‘Segelap’ Warna Kopinya
Suhendra – detikFinance

<p>Your browser does not support iframes.</p>

Lampung – Pemerintah boleh bangga dengan kehebatan Kopi Luwak Indonesia yang mampu ‘menghipnotis’ para pecinta kopi di seluruh dunia seperti di ajang World Expo Shanghai China 2010. Namun kondisi ini justru berlawanan dengan nasib para produsen kopi luwak Liwa Lampung Barat.

Setidaknya sepanjang tahun 2010 ini, para produsen kopi luwak Liwa Lampung Barat mengeluh sulitnya menjual produk kopi luwak-nya. Hal ini diakui oleh beberapa produsen kopi yang ditemui detikFinance di kawasan Way Mengaku Liwa beberapa waktu lalu.

Misalnya saja Sapri pemilik Ratu/Central Luwak yang mengaku saat ini kwintalan biji mentah (gelondongan) kopi luwaknya belum terjual padahal ia harus mendapatkan dana segar untuk memutar bisnis kopi luwaknya. Maklum saja, sekarang sudah bukan lagi musim kopi namun Sapri harus tetap memelihara puluhan ekor musang atau luwaknya dengan biaya pakan yang lumayan menguras kantong.

“Sekarang sebagian musang yang kurus-kurus  kita lepaskan ke hutan, yang saya punya hanya tinggal 30 ekor,” katanya saat ditemui detikFinance di kediamannya, Lampung Barat, beberapa waktu lalu.

Ia menuturkan permasalahan utama yang saat ini melilit para produsen kopi luwak di Liwa adalah masalah sertifikasi keaslian produk kopi yang belum jelas juntrungannya. Berbagai upaya oleh produsen untuk meminta bantuan pemerintah termasuk pemda Lampung Barat dan Lampung masih nihil alias belum mendapat respon.

“Padahal kalau ada permintaan skala besar apalagi untuk ekspor. Pembeli mensyaratkan adanya sertifikasi standar internasional untuk memastikan keaslian kopi luwak,” jelas Sapri.

Menurut Sapri, kondisi semacam ini tidak jarang rencana order dalam jumlah besar harus gagal di tengah jalan, cuma gara-gara alasan tidak ada sertifikat yang menjamin keaslian kopi luwak.

“Pemerintah yang diatas kita ini, selalu beralasan kami tidak berwenang. Mereka nggak kasih solusi soal sertifikasi ini,” tegas Sapri.

Dikatakannya saat ini gaung kopi luwak yang pesonanya sudah begitu luar biasa di masyarakat justru tak menyentuh kesinambungan bisnis kopi luwak di Liwa. Seharusnya, lanjut Sapri, dengan pamor kopi luwak yang sudah terkenal seantero dunia, para produsen bisa merasakan geliat penjualan produk mereka.

“Gaungnya kopi luwak ini memang besar, tapi untuk urusan kesinambungan permintaannya belum terlihat,” katanya.

Sehingga kata dia sekarang ini para produsen untuk meyakinkan pembeli mengenai keaslian produk kopi luwaknya dengan cara membawa pembeli ke tempat penangkaran dan menyaksikan langsung proses produksinya.

“Akhirnya kalau mau nunjukin keaslian, ya pantat si luwak itu lah sebagai sertifikatnya,” ucapnya tertawa.

Selain masalah sertifikat keaslian, para produsen kopi luwak juga sempat dihadapkan  soal halal atau haram dari  produk kopi luwak. Meski sekarang ini sudah terjawab sebagai produk halal, sebelumnya penjualan kopi luwak sempat merosot karena isu ini.

Bahkan masalah dikotomi antara kopi luwak hasil  penangkaran dengan kopi luwak alam bebas masih saja terjadi. Menurutnya sebagai produsen kopi luwak, produk kopi luwak hasil penangkaran justru lebih terjamin kebersihannya.

Sedangkan kopi luwak hasil pengumpulan kotoran luwak di alam bebas  justru masih diragukan kebersihannya, maklum saja di alam bebas luwak biasanya memakan segala macam makanan termasuk bangkai-bangkai binatang.

“Menurut kami kopi luwak liar rasanya tidak jelas. Para pengumpul petani yang misalnya seminggu hanya dapat 1 Kg, lalu kalau ada permintaan 10 Kg ya terpaksa nyadur (memalsukan),” katanya.

Sapri akhirnya berkesimpulan bahwa pasar kopi luwak saat ini benar-benar masih gelap dari sisi kontinyuitas pembeli skala besar, soal standar keaslian, termasuk perdebatan soal kualitas  kopi luwak penangkaran dengan kopi luwak hasil penangkaran.

Bahkan soal harga pun mengalami hal yang sama, di Liwa sendiri harga kopi luwak dihargai sangat variatif,  ada produsen yang menjual Rp 500.000 per Kg, ada juga  Rp 600-800.000 per kg, atau bahkan ada yang sampai Rp 1 juta per Kg.

“Jadi kopi luwak ini pasarnya gelap sehitam kopinya,” ujarnya tertawa.

Hal-hal semacam ini akhirnya berimbas pada para produsen kopi luwak skala kecil di Liwa  yang memiliki penangkaran luwak dibawah 5 ekor. Tak jarang para produsen skala kecil ini menutup usahanya alias bangkrut dan menjual luwak-luwaknya ke produsen yang lebih besar termasuk dirinya.

“Kalau tahun kemarin itu yang coba-coba (bisnis kopi luwak) saya hitung-hitung lebih dari 30 orang, sekarang gulung tikar, yang efektif hanya kami bertiga (Sapri, Gunawan dan Sukardi),” katanya.

Ia mengakui saat ini komoditas kopi luwak masih menjadi konsumsi kalangan tertentu saja karena harganya yang mahal, sehingga tak mengherankan dengan pangsanya kecil namun porsinya diperebutkan banyak produsen, hasilnya nasib produsen kopi luwak seperti sekarang ini.

Sama halnya dengan Sapri,  Sukardi salah satu produsen kopi luwak terbesar di kawasan Liwa dengan bendera Kupi Musong mengatakan hampir setiap hari ada 3-5 orang tamu yang datang ke rumahnya yang tertarik dengan kopi luwak.

Bahkan sudah banyak sekali sampel-sampel kopi luwaknya yang sudah ia kirim ke calon pembeli, namun lagi-lagi pembeli skala besar dengan itensitas kontinyu tak kunjung datang.

Sukardi  juga mengaku masih belum bisa menjawab adanya fenomena bahwa begitu termasyurnya kopi luwak namun yang membeli dalam skala besar dan terus menerus masih nihil. Sukardi menuturkan ia menduga hal ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu adanya spekulan kopi, yang menginginkan kopi luwak tetap eksklusif di pasaran.

“Kopi luwak ini masih langka, hanya daerah tertentu saja yang memiliki kopi luwak,” kata Sukardi.

Ia berharap ada upaya penelitian terhadap produk kopi luwak Lampung Barat terutama dari sisi kualitas bahkan khasiat obat yang selama ini belum diteliti secara ilmiah. Jika  ini dilakukan akan semakin menambah kepercayaan pasar terhadap kopi luwak.

“Misalnya lebih bagus mana kopi luwak kandang, atau kopi luwak hasil hutan, itu yang belum diuji,” katanya.

Setali tiga uang dengan Sapri, ia juga mengharapkan agar pemerintah membuat sertifikasi keaslian kopi luwak. Dengan demikian hal ini bisa menjawab adanya keraguan pasar dan menjamin kelangsungan bisnis produksi kopi luwak di Liwa Lampung Barat.

“Sekarang ini saya bingung banyak orang mencari tapi nggak ada yang membeli dalam jumlah besar dan kontinyu,” katanya.

Sukardi pun menuturkan ada saja kemungkinan yang terjadi dari masalah pemasaran kopi luwak saat ini. Maklum saja pemasaran kopi luwak masih terbatas dan rentan  mengundang spekulan kopi luwak terutama dari para broker.

“Apa kualitasnya rendah? tapi sampai sekarang nggak ada yang komplain. Apa terlalu banyak broker, apa permainan orang kopi. Sekarang kan pemain kopi luwak banyak, biar  ekslusif kopi dibuang di laut habis semua biar mahal lagi. Kan dari ceritanya pemain kopi nggak banyak,” katanya.

Namun terlepas dari itu semua, ia menambahkan saat ini kemampuan produksi kopi luwak di Liwa Lampung Barat bisa mencapai 2 ton kopi per bulan ditopang oleh 20-an produsen kopi luwak. Jika proses pemasaran berjalan dan ditopang oleh permintaan yang kontinyu, maka kopi luwak di Lampung Barat akan menjadi kekuatan ekonomi tersendiri.

Sukardi yang memiliki 40 luwak di penangkaran rumahnya harus berpuas diri dengan hanya menjual ritelan kopi bubuk dengan omset hanya Rp 40 juta per bulan. Sementara produk kopi mentah dalam bentuk kotoran luwak (brenjelan) masih banyak tersisa hingga 3 kwintal sampai saat ini.

“Untuk jualan kopi bubuk saya ada pembeli dari Taiwan yang rutin membeli 10 Kg per minggu,” katanya.

Ia juga  mengeluhkan biaya operasional pemeliharaan luwak yang tinggi, maklum saja saat ini sudah tak musim kopi. Sementara penjualan kopi setiap hari belum menentu.

“Pengeluaran untuk 40 ekor musang per harinya sangat besar termasuk makanannya dan perawatannya,” katanya.

Sukardi menuturkan peran pemerintah terutama pemerintah daerah  masih sebatas membantu dari sisi promosi kopi luwak, dengan mengikutsertakan para produsen di ajang pameran.

“Kalau pemasaran dan pemodalan  belum,” katanya

Sukardi menuturkan dengan segala macam persoalannya, intinya saat ini produsen kopi luwak Lampung Barat masih kesulitan menjual produknya. Bahkan berimbas pada upaya banting harga dari para produsen kopi luwak agar tetap menjaga perputaran uangnya (cashflow).

“Sekarang ini kita kasih harga mahal susah, kasih harga murah orang ragu dan mencibir,” katanya.

Seperti diketahui booming produksi kopi Luwak di Liwa Lampung Barat setidaknya sudah mulai ramai pada tahun 2007. Pada waktu itu kopi Luwak mulai dikembangkan secara intensif dengan pola penangkaran.

Kopi luwak itu sendiri telah dikenal pada zaman kolonial Belanda sampai era tahun 1950-an. Pada masa itu sudah diketahui bahwa Luwak merupakan binatang yang gemar memakan buah kopi yang sudah matang dan para petani sering memunguti kotoran buah kopi luwak di alam bebas.

Petani memiliki  keyakinan kopi-kopi tersebut merupakan biji kopi terbaik dan sudah melalui proses fermentasi di dalam lambung luwak secara alami sehingga menghasilkan kopi dengan cita rasa yang khas.
(hen/qom)

Dipublikasi di Life, Mesin Ice cream, mesin industri, UKM, mesin perta, Tak Berkategori | Tag