Tak cuma digoreng, tempe bisa dijadikan es krim.

Tak cuma digoreng, tempe bisa dijadikan es krim.

Tempe bukanlah makanan asing bagi masyarakat Indonesia. Tapi, kalau dibuat es krim, Anda pasti akan
penasaran dengan rasanya. Tempe yang gurih bagaimana mungkin menjadi es krim lembut yang manis dan meleleh
di lidah. Tapi itulah yang inovasi tiga peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Bukti lezatnya es krim tempe ini telah dibuktikan dalam Seminar Nasional Kimia dan Kongres Nasional
Himpunan Kimia Indonesia, Rabu pekan lalu. Tak terlihat lagi bentuk ataupun warna tempe. Rasanya kini
berubah menjadi rasa cokelat, mocca, vanilla, dan buah-buahan, seperti melon, kiwi, stroberi, leci,
pandan, sampai pisang ambon.
“Yang tersisa cuma langu, bau, dan rasa khas kedelai yang memang tak bisa dihilangkan,” kata Agustine
Susilowati, satu dari tiga penemu es krim tempe. Dua rekannya yang lain, Siti Isnijah, kini telah pensiun,
sementara Teni Ernawati tengah meneruskan pendidikannya di Jepang.

Agustine menyatakan, inovasi bidang pangan alam dan farmasi ini bertujuan untuk menaikkan gengsi bahan
makanan yang populer sejak berabad-abad lalu. Bahkan tempe juga disebut dalam manuskrip Serat Centini, yang
ditulis pada 1814. Namun, dewasa ini tempe dipandang sebelah mata karena dianggap sebagai makanan murah.
“Padahal nilai gizinya sudah diakui,” kata perempuan yang lahir pada 14 Agustus 1958 itu.

Dari keprihatinan itu, mereka mencoba memasyarakatkan tempe dalam bentuk lain. Pilihan jatuh pada es krim.
Alasannya, makanan ini mudah diterima orang. “Es krim juga disukai banyak orang, dari anak-anak sampai orang
tua,” kata Agustine.

Tidak mudah bagi Agustine dan dua rekannya untuk membuat produk yang diberi nama FITes ini. Perlu waktu
dua tahun, dari 1999 sampai 2000, bagi ketiga peneliti tersebut untuk membuat formula rahasia es krim ini.
Formula itu diajukan hak patennya pada November 2001 dan baru keluar branded patennya pada 16 Agustus 2005.
“Setelah patennya keluar, kami baru berani memperkenalkannya kepada masyarakat,” kata Agustine.

Proses pembuatan es krim berbahan dasar tempe ini sebenarnya mirip dengan pembuatan es krim yang biasa
dijumpai. Bedanya yang satu berbahan dasar susu cair sementara es krim ini dari tempe yang padat sehingga
perlu proses penghalusan bahan. “Makanya kami mematenkannya bukan sebagai es krim, tapi makanan beku
dari tempe, serupa es krim,” ujarnya.

Dalam formulasi baru ini diharapkan kandungan nutrisi tempe bisa menggantikan susu. Agustine mengakui ada
zat khusus yang hanya ada dalam susu, tapi tempe punya keunggulan yang mudah dicerna. “Tempe sendiri sangat
istimewa karena zat bioaktifnya tinggi,” ujarnya.

Rasa pahit yang masih tertinggal dalam es krim ini, kata Agustine, memang sengaja dipertahankan agar zat
bioaktif ini tidak hilang. “Zat itulah yang kita kejar sebagai makanan sehat,” ujarnya.

Alasan itu pula mengapa mereka tidak menggunakan susu kedelai sebagai bahan dasar es krim. Peneliti
teknologi pangan ini menekankan bahwa tempe dan kedelai sangat berbeda.

“Kedelai masih banyak senyawa yang belum terfermentasi, masih bisa menyebabkan perut kembung,”
katanya. “Tapi, kalau tempe sudah difermentasi ragi, asam amino dan peptidanya mudah diserap tubuh”

Maka peran ragi tempe Rhizopus sp dalam proses pembuatan es krim ini amat penting. Pasalnya, ragi
menentukan kematangan tempe. Produk ini butuh waktu kematangan yang pas, tidak boleh lebih karena tempe
hanya bagus dalam waktu kurang dari 48 jam. Ragi juga memproduksi enzim protease dalam aktivitas protelitik
sehingga mengubah protein tempe menjadi asam-asam amino dan senyawa bioaktif.

Agustine mengingatkan, produk buatan lembaga penelitian ini tidak bisa disamakan dengan es krim
buatan pabrik, seperti Baskin Robins atau Campina, yang menggunakan susu murni. “Ini makanan kesehatan,
yang dicari adalah fungsinya dan mengejar zat bioaktif tempe,” ujarnya.

Rasa tempe yang tidak bisa dihilangkan inilah yang menjadi tantangan bagi para peneliti. Bagaimana
menutupi rasa tipikal tempe dengan berbagai rasa dan aroma, seperti cokelat, mocca, vanilla, dan
buah-buahan sehingga rasa tempe tersamar. “Harus pinter-pinter memformulasikannya,” kata Agustine.
“Lama-lama kami jadi tahu tempe padu padannya kalau dengan cokelat itu agak nekat. Sebab, cokelat ada sisi
pahit, tempe juga.”

Agustine merasa mengubah rasa tempe lebih mudah daripada mengubah kecenderungan masyarakat yang sulit
menerima produk baru. Apalagi makanan dari tempe yang telanjur mendapat stigma makanan murah. “Harus dipikir
ini bukan sedang makan es krim, tapi makanan kesehatan yang enak,” kata peneliti kelahiran Brebes, Jawa
Tengah, itu. “Ini sesuatu yang sifatnya obat, setengah terapi.”

Sayangnya, kelezatan dan manfaat es krim tempe ini belum bisa dirasakan masyarakat luas. Sampai saat ini
belum ada perusahaan yang tertarik untuk memproduksi massal produk tersebut. Agustine menyatakan, sebagai
peneliti mereka bertugas mencari teknologi baru, bukan memproduksi dan menjual produk.

“Padahal ini bagus untuk anak-anak yang rentan sekali pencernaannya, gampang diare,” kata Agustine. “Dengan
penggunaan tempe, zat antibakteri yang lumayan tinggi, jadi selain pertumbuhannya tinggi juga punya daya pertahanan.”

Es krim adalah panganan yang paling nikmat kalau disantap saat cuaca sedang panas saat ini. Namun, hidangan favorit semua kalangan baik tua maupun muda ini kerap membuat badan gemuk para penikmatnya bila sering disantap secara berlebihan.

Meski demikian, efek menggemukkan badan dari es krim ini kini tak perlu dikhawatirkan. Pasalnya sejumlah ilmuwan dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menemukan es krim yang sehat dan tidak menggemukkan. Mereka adalah Agustine Susilowati, Siti Isniyah dan Teni irnawati yang berhasil menemukan es krim sehat dengan bahan dasar tempe.

Agustine dan dua rekannya mengaku butuh waktu dua tahun untuk mewujudkan gagasan membuat es krim rasa tempe dalam penelitian ini. Dengan menghabiskan dana Rp 200 juta, impian mereka membuat karya es krim rasa tempe terwujud. Pun demikian mereka akhirnya dikukuhkan sebagai inventor dalam karya ini oleh LIPI.

Menurut Agustine, membuat es krim tempe relatif mudah. Sebab selain tempe, bahan baku lainnya seperti air mineral, minyak nabati, dan penambah aroma lainnya mudah didapat. Hanya, kata Agustine, pembuatan es krim rasa tempe diperlukan alat-alat khusus seperti alat pengukus, pelumat dan mesin pembuat gumpalan es. Selain itu, yang terpenting adalah proses untuk menghilangkan aroma tidak sedap.

Dia menambahkan untuk menghasilkan es krim siap santap ini membutuhkan waktu 3 sampai 6 jam. Sementara untuk biayanya satu liter adonan es krim dibutuhkan dana Rp 4.000 sampai Rp 6.000.

Es krim tempe ini sangat sehat karena kadar lemak dan gulanya sangat rendah. Rasanya juga tak berbeda dengan es krim biasa. Setelah empat tahun menjalani ujian kelayakan, inovasi ini kemudian mendapat pengakuan hak paten dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Hak paten itu berlaku hingga jangka waktu 20 tahun ke depan


Tentang Admin

Anak manusia yang sedang memulai usaha.. ice cream keliling... Moga-moga bisa keliling Indonesia atau dunia... kali ya...
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Tak cuma digoreng, tempe bisa dijadikan es krim.

  1. Vera berkata:

    Hi..saya adalah penggemar tempe dan es krim juga..jadi begitu baca judul artikel ini, saya berpikir (‘wah…gue bgt neh..’ hehehe..).
    Apakah ada nomor yang bisa dihubungi untuk soal bisnis es krim tempe ini?
    Terima kasih byk ya…

  2. fuji berkata:

    kebetulan nih saya pembuat tempe,
    dan udh 5 fariasi pembuatan tempe yg sya coba,
    dan rasanya pun brbeda,
    klo buat es cream msh da langunya, coba aja gnti cra pembuatan tempenya,
    siapa tau bisa gx langu lg,hehe

    SUKSES TEMPE, CINTAI MAKANAN INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s