‘Shi Sang Ci You Mama Hau’

‘Shi Sang Ci You Mama Hau’

Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari

keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut.

Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba

kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah

yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan

membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua

sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang

terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi

keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan

untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah

menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.

Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb

bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen

dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang

belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang

anak sangat tunduk pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar

menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk

anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut

mereka akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk

meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun

ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria.

Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan

dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan

sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut

dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria… Mereka kemudian memohon

pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya.

Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar,

perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota,

reputasi anaknya akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi.

Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut

secara perlahan2.

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar

wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan

menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai

hidupnya di tempat lain.

Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa

perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan

bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini,

tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan

uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat

sulit?.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk

surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang

pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari

kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. ‘Walaupun ia kelak

bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang

berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua’, kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia sudah

memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya

hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji

setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi

penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi

menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.

Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.

Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak

antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu,

sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia

bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

==========0000000000==============

Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang

ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk

membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah

industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan menyulam

sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan

ini sambil menggendong anak di punggungnya.

Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak

memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi

sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya…

Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras. Demamnya

sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus

menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah

menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan

itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada

siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.

Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup

ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari

obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi

sang ibu hanya mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang

sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak

mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan

belum terbayar.

Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk

mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak permintaannya,

untuk bayar di akhir bulan saat gajian.

Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada

di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur

dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari

pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat

mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang

mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak

mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?..

Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang

ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri.

Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang

sedang dilakukan oleh sang ibu ………… .

==========0000000000==============

Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan,

cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya… Di hari minggu,

mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain

bersama, dan bersama2 menyanyikan lagu ‘Shi Sang Chi You Mama Hau’

(terjemahannya ‘Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik’).

Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga

toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.

Hari2 mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak

terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam

hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan

biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.

Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat

membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini.

Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah

pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu

mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain

yang perlu dibiayai.

Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia

meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena ia

akan membelinya bulan depan. ‘Apakah kamu punya uang?’

tanya sang pemilik toko. ‘Tidak sekarang, nanti saya akan punya’, kata sang

anak dengan serius.

Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam tangan tsb.

Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2.

Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya ‘Dari mana kamu mendapatkan

uang itu? Bukan mencuri kan?’. ‘Saya tidak mencuri, kakek.

Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang

pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari

sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam

ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku

tentang hal ini. Ia akan marah’ kata sang anak. Sang pemilik toko tampak

kagum pada anak tsb.

Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera

memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tsb. Sang

ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam

tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari

mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.

‘Apakah kamu mencuri, Nak?’ Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin

ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.

Setelah ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya

telah mencuri. ‘Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah

ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?’ kata sang ibu.

Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada

anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis,

sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu

perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus

melakukannya, demi kebaikan anaknya.

Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah

tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. ‘Ia

sebenarnya anak yang baik’, kata salah satu tetangganya.

Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu

tetangganya yang merupakan familinya.

Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika

mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan.

Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon

agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.

‘Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh

menyembunyikan sesuatu dari ibunya’. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu.

Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak

tiba2 muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam

tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang

tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga

menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke

rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan

uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.

Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb,

begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya,

keduanya menangis dengan tersedu-sedu.’Maafkan saya, Nak.’

‘Tidak Bu, saya yang bersalah’………….. ..

===========000=================

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya

mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan hal ini,

karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.

Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuah kesempatan,

mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari

bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya

sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung

semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan

baik tanpa bantuanmu.

Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin

melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.

===========000==================

Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan

bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau

kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.

Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya

medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.

Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang

tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah,

karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.

Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling

kota, bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan

lagu ‘Shi Sang Chi You Mama Hau’, lagu kesayangan

mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut

dalam kegembiraan bersama sang anak.

Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak

menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu.

‘Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak’ kata

ibu. ‘Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa

bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang

untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja

lagi, Bu’, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang

ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.

Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang

melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta2

ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan

mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama

ibunya, sang anak menolak. ‘Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu’,

teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis,

sang ibu berkata ‘Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini.

Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.’ ‘Tidak, aku tidak mau

mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya?

Ibu sekarang tidak mau saya lagi’, sang anak mulai menangis.

Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak

didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 ‘Kalau ibu sayang

padaku, bawalah saya pergi, Bu’. Sampai pada akhirnya, ibunya

memaksa dengan mengatakan ‘Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah

disini’, ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya

meronta2 dengan ledakan tangis yang memilukan.

Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat

hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk

anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan

baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia

telah kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.

Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat

nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak

akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk

mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri

itu dibatalkan, demi anaknya juga………. ..

============000=========

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja

yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani

perawatan medis secara rutin setiap bulan.

Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.

Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah

mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak

pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya,

yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai

bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah

kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia

akan memberikan semuanya untuk ibu.

Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya.

Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong.

Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu

kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di

depan rumah tsb, menangis ‘Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi.’

Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah

terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan

semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.

Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi

pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.

Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari ini

adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya

mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil

menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun,

setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang

ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya

dalam surat itu.

Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa

mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu

membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia

memohon agar bisa menemukan anaknya.

Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya pernah

pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa bila

kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih.

Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik.

Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon

agar bisa bertemu dengan dirinya.

Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan, demamnya

tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke

rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan

berguling2 jatuh ke bawah………. ..

============000==============

Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah.

Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh

dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak

telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapi

hasilnya nihil.

Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan

teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di

persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang

mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak

pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak

berkomat-kamit.

Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama

pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil

mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah

‘Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?’

Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera

menyanyikan lagu ‘Shi Sang Ci You Mama Hau’ dengan suara perlahan, tak

disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka

berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu

menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua

itu dan berteriak dengan haru ‘Ibu? Ini saya ibu’.

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu bertanya,

‘Apakah kamu ??..(nama anak itu)?’ ‘Benar bu, saya adalah anak ibu?’.

Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi

bumi …………… .

Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang

ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya,

tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai

orang gila.

====================000===========================

Perenungkan untuk kita renungkan bersama-sama:

Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu

bahkan rela mengorbankan nyawanya..

Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda,

ataupun disaat Ibu sudah tua :

1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku

sebagai gantinya.

2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda,

diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan

nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara

apapun ………..

Tidak diragukan lagi ‘Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini’

Ingin bergabung dalam sebuah MISI MULIA ? Ada 2 tindakan yang dapat Anda

lakukan :

1. Bila Anda beruntung (Ibu Anda masih ada di dunia ini), ajaklah ia untuk

keluar makan atau jalan2 MALAM INI JUGA. Jangan ditunda2. Bila Ibu Anda

tinggal di tempat yang terpisah jauh dengan Anda, telponlah dia malam ini

juga, just to say ‘hello’. Catatlah hari ulang tahunnya, rayakan, dan

bahagiakanlah dia semampu Anda… Hidangkan makanan favoritnya, dst.

2. Kirimkan kisah film ini kepada saudara/i Anda, teman2 Anda, maupun

rekan2 kerja Anda (minimal 5, kalau 100 org lbh baik lagi). Bagi sebagian

dari mereka, kisah ini mungkin akan seperti setetes embun yang menyegarkan

jiwa mereka, yang terkadang terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri.

Anda sungguh berjasa dalam hal ini??

Mom, my beloved. I love you Mom forever………in my deep heart…. I always

miss you Mom……..

Tentang Admin

Anak manusia yang sedang memulai usaha.. ice cream keliling... Moga-moga bisa keliling Indonesia atau dunia... kali ya...
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s