Kasus Toko Online: Pendapatan Tidak Stabil, Bagaimana Menyiasatinya?

6 Juli 2010

roniyuzirman Business 27 Komentar

Sebuah komentar yang menggelitik saya:

Pak Roni,
Saya koment dengan melihat dari sisi produknya yang unik dan marketnya industri.

Saya awalnya bisnis offline, engineering di control system. awalnya jual dari pabrik ke pabrik. setelah kenal dgn tda jaksel terpengaruh juga untuk membuat toko online http://www.plcshop.co.id. Menurut saya yang menjalaninya adalah Murah dan bagus kalu dibandingkan kita nggak ada bisnis sama sekali.

Awalnya menarik, ada permintaan dan pembelian. Problemnya saya melihat ini tidak konsisten karena sifatnya menunggu sehingga prosesnya lama dan pendapatannya menjadi tidak stabil. Kondisi ini membuat kita terhambat gerak expansinya. Mulai dilakukan penetrasi di semua iklan gratis, kaskus, indonetwork, email campaign. Tetap saja hasilnya tidak stabil. maka online ini menjadi mahal, setelah saya harus menempatkan engineer, sekali-kali harus visit, dan jadilah bisnis ini online dan offline bercampur aduk.

Bisnis yang dilakukan oleh teman ini mirip dengan saya, B2B. Saya tidak mencari pembeli ritel, melainkan grosir.

Persoalannya adalah mengenai pendapatan yang tidak stabil lantaran pembelian yang sifatnya menunggu. Ini juga mirip kasus saya dan saya yakin juga banyak dialami yang lainnya.

Semua bisnis mengalami hal ini.

Saya suka dengan analogi bercocok tanam. Ada masanya menanam, kemudian merawat dan memanen.

Di dalam bisnis juga demikian. Ada waktunya menanam, menebar benih yang dalam konteks toko online adalah berpromosi, pasang iklan, optimalisasi SEO dan sebagainya untuk mendatangkan calon pembeli (leads).

Dengan berbagai “rayuan” di website, akhirnya calon pembeli itu terkonversi menjadi pembeli. Done. Pertanyaannya, apakah dia akan membeli lagi (repeat buying), apakah dia akan makin sering membeli (frekuensi), apakah dia akan membeli lebih banyak (volume), apakah dia akan mengajak temannya untuk membeli di tempat kita (referensi)?

Itu semua adalah pertanyaan menarik sekaligus menantang bagi pemilik toko online. Toko online kita harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu kalau toko itu ingin terus sustain dan bertumbuh.

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah the ultimate question yang harus dijawab oleh semua bisnis tak terkecuali bisnis toko online kita.
Masalah teman kita selanjutnya adalah bercampur aduknya bisnis online dan offline.

Pertanyaan saya, siapa yang bilang harus dipisah?

Menurut saya, tidak ada bisnis yang murni pengelolaannya online. Apakah Amazon.com hanya mengelola bisnisnya secara online tanpa gudang, tanpa membangun infrastuktur offline? Kalau dia tidak melakukanya, dia akan kalah dengan yang melakukannya.

Makanya, ketika saya terjun bikin toko online tahun 2003 dan langsung sukses dalam waktu cukup singkat adalah karena saya sudah menguasai proses bisnis offline-nya, sehingga saya bisa dengan cepat menyesuaikan diri dengan tata cara berbisnis online.

Saya sebenarnya kurang sreg dengan sebutan pebisnis online. Setiap diundang seminar saya selalu diminta sharing tentang sukses berbisnis online. Saya tidak nyaman dengan istilah ini. Karena bisnis saya tidak murni online sebetulnya. Online hanya salah satu tools-saja di antara segambreng tools lain yang saya gunakan.

Saya lebih suka dengan istilah “multichannel marketing” atau “integrated marketing”. Semua “senjata” di pakai di bisnis ini. Tidak hanya online.
Diskusi ini jadi menarik menurut saya.

Ada pendapat lain? Mudah-mudahan teman-teman lain bisa menambahkan, hingga memperkaya diskusi ini. Saya jadi “whistle blower” aja, melempar wacana :)

Have a happy and productive day!

sumber:

http://roniyuzirman.wordpress.com/2010/07/06/kasus-toko-online-pendapatan-tidak-stabil-bagaimana-menyiasatinya/#comment-5615

Tentang Admin

Anak manusia yang sedang memulai usaha.. ice cream keliling... Moga-moga bisa keliling Indonesia atau dunia... kali ya...
Pos ini dipublikasikan di Life, Mesin Ice cream, mesin industri, UKM, mesin perta. Tandai permalink.