Konsep Restoran Masa Depan: Community Kitchen

Konsep Restoran Masa Depan: Community Kitchen

Rabu, 25 November 2009 07:00 Redaksi-1
E-mail Cetak PDF

Kombinasi layanan restoran ini memang sempurna bagi orang di jaman kini. Makanlah secukupnya, jangan berlebihan, makanannya makanan organik , sampah seminimal mungkin, dan pelanggan bisa bayar sesuai isi kantong. Restoran ini mungkin sulit dijalankan bagi mereka yang kapitalis. Restoran ini cocok bagi mereka yang aktif di komunitas, peduli pada penyelamatan bumi dan mau berbagi makanan dengan sesama.

Enam tahun lalu Denise Cerreta dan suaminya Libby Birky punya konsep unik, membangun restoran yang melayani suatu komunitas. Pasangan muda ini kemudian mencari restoran yang mendekati konsep tersebut. Mereka menemukan One World Cafe di Salt Lake City.  Ia menawarkan satu konsep restoran baru kepada pemilik One World Cafe: menyediakan makanan organik, biarkan pengunjung memilih makanan dengan porsinya masing-masing, dan biarkan mereka memilih makanan sesuai dengan kemampuannya membayar.

Perlu beberapa minggu untuk meyakinkan pemilik. Setelah setuju Denise mendatangkan teman-temannya para relawan yang ahli di bidang restoran untuk membantu. Akhirnya konsep itu bisa dijalankan di restoran tersebut. Tahun 2006 Denise dan kawan-kawan membangun satu prototif restoran ideal untuk dikembangkan di tempat lainnya. Namanya One World Everybody Eats di Salt Lake City, Utah, juga. Ia tak mau menyebut restorannya ini sebagai kafe. Menurutnya restorannya lebih cocok disebut sebagai  community kitchen. Restoran ini pun sukses.

Denise mendapat banyak tawaran dari pengelola restoran lain yang ingin meniru konsepnya. Tentu saja ia senang karena bisa memperluas jangkauannya dan konsepnya “menyelamatkan” bumi bisa lebih mendekati realita. Maka berdirilah restoran-restoran lainnya seperti One Durham Everybody Eats, One World Spokane, One World Charleston, A Better World Cafe, dan sebagainya. Ia, katanya, ingin mengembangkan konsep ini tak hanya ke seluruh Amerika, tetapi juga ke seluruh dunia. Dan One World Everybody Eats pun kemudian jadi yayasan.

Dalam website-nya yayasan ini menuliskan misinya: Kami berdedikasi untuk mengurangi kelaparan di dunia, untuk menyediakan makanan organik, untuk memberi makan dan melibatkan anggota komunitas kami, kami dedikasikan untuk mengurangi sampah pangan, dan sebagainya. Meski tidak profit oriented bagi Denise, restoran-restorannya membukukan keuntungan bersih rata-rata 5%, keuntungan yang sama dengan bisnis restoran di AS. Dari pengalaman Denise, ternyata restoran yang berbasiskan komunitas dan makanan organik sangat menggiurkan juga. Anda terinspirasi? (Den Setiawan, den.setiawan@yahoo.co.id. Foto: Wikipedia)

sumber :

http://www.majalahduit.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1236:den&catid=48:cat-bisnisyuk&Itemid=63

Tentang Admin

Anak manusia yang sedang memulai usaha.. ice cream keliling... Moga-moga bisa keliling Indonesia atau dunia... kali ya...
Pos ini dipublikasikan di Life, Mesin Ice cream, mesin industri, UKM, mesin perta dan tag . Tandai permalink.