Es Krim yang Bikin Hangat

Es Krim yang Bikin Hangat
Inggried Dwi Wedhaswary

KOMPAS.com – BANYAK orang yang mengganggap minum jamu itu tidak enak. Rasanya pahit atau aroma yang menyengat membuat orang enggan minum jamu. Namun, kalau jamu itu diubah ujudnya menjadi es krim selera Anda akan terjaga.

Sejak ratusan tahun lalu, nenek moyang bangsa Indonesia terkenal pandai meracik jamu dan obat-obatan tradisional. Beragam tumbuh-tumbuhan, akar-akaran, dan bahan alami yang lainnya diracik menjadi ramuan yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Jamu dan obat-obatan tradisional telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, jamu, sebagai salah satu warisan budaya Indonesia hingga saat ini masih diteruskan dan dikembangkan eksistensinya.

Tak disangka jamu yang pada awalnya hanya berbasis tradisi dan budaya secara sederhana, kini telah berkembang pesat sebagai industri modern dengan berbagai produk inovasinya. Baik dari segi jenis produknya, kemasannya, maupun pemanfaatannya. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang ini sudah seberapa jauh inovasi yang telah dilakukan produsen jamu.

Ada beberapa peluang untuk mengembangkan jamu sehingga dapat ikut memasok devisa negara. Salah satunya adalah membuka pasar produk jamu untuk membidik semua kalangan. Selama ini jamu identik bagi kalangan menengah ke bawah.

Untuk menaikkan citra jamu itu salah satunya dengan mengombinasikan produk jamu dengan produk lain. Salah satunya adalah membuat es krim jamu. Es krim merupakan salah satu makanan yang sangat digemari banyak orang. Mulai dari anak- anak hingga orang dewasa. Alasan itulah dibuatnya es krim jamu.

Iseng saja

Adalah Retno Widawati dari komunitas Honocoroko yang pertama kali mempunyai ide untuk membuat es krim jamu. Awalnya hanya untuk mengisi waktu luang saat akan berbuka puasa bersama dengan anak-anak asuhnya.

Menurut Retno, yang terpikirkan saat itu hanya bagaimana mengisi waktu luang anak-anak. Lalu muncul ide membuat es puter tetapi dengan bahan dari jamu.

Retno membeli alat-alat untuk membuat es krim, dan anak-anak itu senang dengan memutar-mutar alat es krim. Dan ternyata es krim jamu tersebut menjadi sesuatu yang menarik bagi masyarakat.

“Ide awal es krim jamu ini, muncul dari kegemaran saya bermain. Saya ajak anak-anak remaja di sekitar lingkungan tempat tinggal saya, yang tergabung dalam komunitas Honocoro, untuk mencoba membuat sesuatu yang unik dan baru,” ujar Retno yang ditemui pada akhir pekan lalu, di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Demi mensosialisasikan jamu ke masyarakat, Mbak Retno—demikian ia biasa disapa—tak berniat untuk mematenkan produk es krim jamu hasil kreasinya. Ia membuka kebebasan bagi siapa saja yang ingin membuka usaha produk es krim jamu.

“Es krim jamu ini mudah dibuat dan tidak memerlukan peralatan berat untuk memproduksinya. Saya membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin membuka usaha produk es krim jamu ini. Siapa saja boleh dan tanpa dipungut bayaran, ” kata Retno yang juga sebagai terapi alternatif.

Salah satu yang mengembangkan es krim jamu ini adalah Kardi Sriyanti—akrab disapa Ibu Kardi—yang sudah berpengalaman sebagai tukang jamu gendong selama 40 tahun.

Setelah diajarkan cara membuat es krim jamu, Kardi memberanikan diri memasarkan es krim jamu dengan rasa beras kencur dan kunyit asam.

Untuk membuat es krim jamu, selain diperlukan bahan utama jamu beras kencur dan kunyit asam, cukup menambahkan tepung sagu singkong atau bisa juga menggunakan tepung hunkwe yang kemudian dimasak hingga menjadi bubur kental.

Untuk satu termos kecil ukuran kurang lebih 1 liter, perbandingannya dengan dua setengah botol jamu beras kencur maka tepungnya hanya satu sendok makan. Setelah tercampur, cairan dimasukkan ke dalam termos es dan siap untuk dikocok.

Di sekeliling termos diletakkan es batu dan garam untuk membekukan adonan. Selama kurang lebih 30 menit termos es diputar-putar hingga es batu disekelilingnya mencair. Kemudian cairan jamu tadi menjadi butiran halus seperti es puter.

“Alhamdulillah banyak orang yang suka. Meski yang sedang flu minum es beras kencur ini jadi tidak sakit. Malah badannya menjadi hangat,” kata Ibu Kardi tersenyum.

Saya sendiri ketika pertama kali merasakan langsung ketagihan. Warna es krim yang agak kecokelatan memiliki sensasi rasa yang berbeda. Rasa beras kencurnya masih terasa dan benar-benar membuat badan menjadi hangat.

Menurut Ibu Kardi, dirinya juga pernah mencoba dengan kunyit asam. Dengan cara pembuatan yang sama. Jadilah es krim kunyit asam yang juga tak kalah enaknya.

Dengan keunikan rasa dari beras kencur dan kunyit asam memang membuat es krim ini menjadi istimewa. Selama ini bisa jadi orang sudah bosan dengan rasa es yang itu-itu saja: cokelat, alpukat, vanila.

Sayangnya es krim beras kencur ini belum dipasarkan dengan kemasan yang kecil. Kardi hanya membuatnya berdasarkan pesanan, misalkan untuk pesta pernikahan, acara arisan dengan kemasan termos yang besar untuk 300-400 orang. Dijual dengan harga Rp 750.000 per termos.

“Ke depannya kami ingin juga membuat dalam kemasan kecil. Biar banyak orang yang bisa mencicipinya,” kata Ibu Kardi.

Sejarah es krim

Menurut cerita, es krim sudah mulai dikenal sejak zaman Romawi saat diperintah oleh Kaisar Nero. Ini terbukti dari catatan sejarah yang menceritakan detil sebuah pesta. Salah satu hidangannya adalah es yang diambil dari penggunungan dengan dihiasi buah-buahan.

Tapi yang paling awal mengenalkan es krim dengan bentuk seperti sekarang adalah Kaisar Tang dari Dinasti Shang, China. Kaisar Tang adalah raja yang memiliki cita rasa tinggi terhadap makanan dan minuman.

Masakan China di masa itu betul-betul dibuat menjadi masakan kelas dunia. Para juru masak terbaik dari seluruh China dikumpulkan, mereka diberikan jenjang atau tingkat keahlian.

Teknik memotong dan menggoreng jadi sebuah kebanggaan bagi para ahli juru masak China. Ketika disajikan es yang diambil dari salju yang turun, kaisar tidak segera menyantap begitu saja es yang tersedia.

Kaisar meminta agar es dicampur dengan susu sapi, tepung, dan sedikit kapur barus. Adonan ini diaduk hingga membentuk krim. Mulailah dikenal di kalangan istana es krim yaitu es yang berupa adonan beberapa bahan.

Awalnya es krim terbuat dari es salju yang dicampur lemak susu, buah-buahan, dan diberi berbagai macam adonan sehingga lembut dan nikmat.

Di Eropa, es krim dibawa dan diperkenalkan oleh Marcopolo. Di masa itu yang namanya hidangan dari es adalah hidangan untuk kaum bangsawan.

Apalagi ketika listrik belum ditemukan, orang berusaha membuat es dengan cara membuat mesin minyak tanah. Mereka tidak lagi harus menunggu musim salju tiba, tapi dengan teknologi bisa membuat air beku.

Hal ini hanya bisa dilakukan oleh para bangsawan dan orang-orang kaya sehingga sampai tahun 1600-an es merupakan hidangan mewah. (dam)

Sumber: wartakotalive.com

Dipublikasi di Tak Berkategori

Makan Es Krim Tanpa Bikin Gemuk

Makan Es Krim Tanpa Bikin Gemuk
Christina Andhika Setyanti

Es krim justru merupakan sumber energi yang bagus, asalkan es krim itu menggunakan bahan yang berkualitas.

KOMPAS.com – Kandungan susu atau santan yang cukup tinggi dalam es krim tak jarang membuat perempuan berpikir beberapa kali untuk menikmati es krim. Susu, santan, dan gula yang cukup tinggi ini dikhawatirkan akan mengacaukan program diet, sehingga Anda harus berjuang keras untuk menolak godaan es krim ini.

“Diet sebenarnya diciptakan untuk membuat kita menjadi sehat, bukan untuk menyiksa fisik kita,” ungkap Chef Sandra Djohan kepada Kompas Female, saat acara yang diadakan Wall’s Dung Dung di Restoran Demang, Jakarta Pusat, Selasa (10/1/2012). Menyantap es krim bisa menjadi rekreasi atau reward terhadap diri sendiri atas berbagai keberhasilan yang diraih, karena menurut Sandra es krim tak ubahnya heaven in mouth. “Citarasa yang nikmat, tingkat dingin, dan tekstur yang lembut, membuat es krim menjadi sebuah penghargaan untuk diri sendiri,” tukasnya.

Sebenarnya, sah-sah saja untuk mengonsumsi es krim saat diet. Yang harus diperhatikan adalah jumlah atau takaran per sajinya, serta frekuensi Anda menikmati es krim ini. “Buat saya, ketika diet tidak perlu menghindari es krim, namun yang paling penting adalah pandai-pandai mengombinasikan dan padu padan makanannya,” beber chef lulusan Le Cordon Bleu, Paris, ini.

Selain itu, perhatikan juga jenis diet yang dilakukan, dan sesuaikan dengan kebutuhan kalori Anda per harinya. Secara umum, perempuan membutuhkan sekitar 2000-2200 kalori per hari untuk memberikan energi. Untuk menghindarkan asupan kalori yang berlebihan saat diet, sebaiknya kurangi konsumsi karbohidrat dari nasi, dan gunakan beberapa gram es krim untuk melengkapinya.

“Misalkan Anda makan sekitar 150 gr nasi, maka agar diet tetap jalan namun tetap bisa makan es krim, sebaiknya kurangi jumlah nasi yang dikonsumsi, dan penuhi dengan beberapa sendok makan es krim,” tambahnya. Untuk diet sebaiknya pilih jenis es krim yang memiliki rasa buah-buahan, karena bisa memenuhi kebutuhan vitamin sekaligus serat untuk kesehatan, meskipun jumlahnya tentu tak sebanyak buah utuh. Ketika sedang diet, Anda bisa menikmati es krim dengan takaran sekitar 25-35 gr per hari. Menurut angka kecukupan gizi, dalam 25 gr es krim terdapat sekitar 51,75  kalori, lemak 3,125 gr, protein 2 gr, dan karbohidrat 5, 15 gr.

Namun untuk lebih melancarkan program diet, sebaiknya pilih es krim yang mengandung susu rendah lemak, dan mengurangi topping yang tinggi lemak dan gula seperti karamel, biskuit, dan krim. “Sebaiknya konsumsi es krim ini antara 2-3 kali seminggu, agar Anda tak tersiksa karena tidak boleh menyantap es krim,” tambahnya.

 

Dipublikasi di Tak Berkategori

Tak Benar Es Krim Bikin Batuk

Tak Benar Es Krim Bikin Batuk
Christina Andhika Setyanti

Jika habis makan es krim jadi batuk,mungkin karena memang kondisi tubuh si anak yang sedang menurun.

KOMPAS.com – Es krim merupakan jajanan yang banyak disukai masyarakat, terutama anak-anak. Masalahnya, banyak orangtua yang melarang anak-anaknya menyantap es krim karena khawatir menyebabkan anak batuk atau pilek. Padahal, es krim pada dasarnya terbuat dari susu sapi, santan, gula, dan perisa, misalnya ekstrak buah-buahan.

“Karena terbuat dari susu dan bahan alami lainnya, sebenarnya es krim memiliki nilai dan kandungan gizi yang cukup banyak di dalamnya, seperti serat, karbohidrat, vitamin C, dan lainnya,” ungkap Chef Sandra Djohan kepada Kompas Female, usai acara “Inspirasi Rasa Nusantata bersama Wall’s Dung Dung” di Restoran Demang, Jakarta Pusat, Selasa (10/1/2012).

Jika anak lalu menjadi batuk atau pilek setelah makan es krim, sebenarnya penyebabnya bukan es krim itu sendiri. “Es krim yang alami tidak menimbulkan berbagai penyakit, tetapi mungkin karena memang kondisi tubuh si anak yang sedang menurun. Jadi lebih bisa dibilang sebagai pemicu saja, bukan penyebab,” tambah chef lulusan Le Cordon Bleu, Paris, ini.

Kandungan es krim seperti susu, santan, gula, dan buah-buahan sendiri sebenarnya bisa melengkapi kadar gizi seseorang, terutama anak-anak. Kandungan protein, karbohidrat, gula, sampai serat yang terkandung dalam buah-buahan membuat es krim menjadi kudapan yang sehat. Kalau sudah begini, paling-paling yang perlu Anda hindari adalah melarang anak-anak mengonsumsi es krim sebelum makan. Sebab biasanya, mereka menjadi kenyang sebelum makan nasi, lalu menolak makan. “Sebaiknya es krim disajikan setelah makan. Ini lebih berfungsi sebagai reward untuk mereka, tapi tanpa mengabaikan berbagai manfaat dan gizi mereka,” ujarnya.

Ketepatan waktu makan dan takaran es krim untuk anak-anak memang harus diperhatikan. Ketahanan tubuh anak yang cenderung rentan terhadap penyakit dibanding juga perlu dipertimbangkan. “Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik. Jadi biarkan anak mencoba semua makanan termasuk es krim, namun tetap terkontrol. Sebaiknya es krim diberikan sekitar seminggu dua kali,” saran pemilik restoran Epilogue di kawasan Cipete, Jakarta Selatan ini.

Selain itu, sebaiknya orangtua juga berhati-hati untuk memilih es krim, karena sekarang ini banyak beredar es krim yang dibuat asal-asalan, atau es krim dengan banyak kandungan bahan kimia seperti pemanis buatan (seperti aspartam, sakarin), zat pengawet, zat pewarna, dan lain sebagainya.

 

http://female.kompas.com/read/2012/01/10/19250066/Tak.Benar.Es.Krim.Bikin.Batuk

Dipublikasi di Tak Berkategori

PELUANG BISNIS MESIN PEMBUAT TALI RAFIA

PELUANG BISNIS MESIN PEMBUAT TALI RAFIA
Mesin pembuat tali rafia membikin plastik berasa manis
Share
dibaca sebanyak 496 kali
0 Komentar

Kebutuhan yang tinggi akan tali rafia ikut mengerek laba produsen mesin pembuat tali rafia lokal. Meski dengan harga yang lebih murah namun kualitas mesin tak kalah jauh dari mesin impor, para produsen mesin ini juga mampu memperoleh omzet hingga ratusan juta rupiah. Pembeli mesin ini tak hanya pemilik toko kelontong namun juga pemilik pabrik.

Siapa yang tidak kenal dengan tali rafia? Tali plastik berwarna-warni ini sudah akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Maklum, untuk kebutuhan ikat mengikat wadah ukuran besar tali rafia ini lebih efektif ketimbang menggunakan tali plastik atau tampar. Selain itu, harga tali ini juga murah meriah dibandingkan dengan jenis tali yang lain.

Itulah sebabnya, bisnis tali rafia juga tak ada matinya. Pengusaha kelas apa saja menggunakan tali ini untuk mempermudah pengemasan. Nah, seiring dengan larisnya tali rafia, para produsen mesin pembuatan tali ini pun merasakan kenaikan penjualan yang lumayan tinggi.

Lihat saja pengalaman Hadi Siswono, produsen mesin pembuat tali rafia di bawah CV Plastik Trimendo di Tangerang. Menurut Hadi, bisnisnya terkerek naik seiring dengan larisnya penjualan tali rafia.

Hadi mulai menekuni bisnis pembuatan mesin tali rafia sejak 2005 lalu. Sebelumnya, ia hanya membuka bengkel sepeda motor. Ide membuat mesin pembuat tali rafia ini sebenarnya datang dari teman-temannya. Bagi Hadi membuat mesin tali rafia ini juga tak susah karena dia sarjana mesin. “Awalnya, saya melihat mesin merek luar, kemudian saya modifikasi,” ujarnya.

Cara kerja mesin ini sejatinya sederhana saja, yakni mesin akan mencacah bijih plastik kering menjadi tali rafia. “Ada sistem pemanasan yang membuat biji plastik menjadi lembaran tali,” ujar Hadi.

Saat ini, dalam sebulan ia mampu memproduksi dua hingga tiga mesin berkapasitas 15 ton tali rafia. Hadi menjual mesin itu seharga Rp 40 juta hingga Rp 60 juta. Karena itu, dalam sebulan ia bisa meraup omzet hingga Rp 120 juta. “Kalau untuk mesin otomatis harganya Rp 60 juta,” ujarnya.

Hadi bilang, pembeli mesin tali rafia adalah pengusaha tali rafia di seputaran Jabodetabek dan Bandung. Pria berusia 45 tahun ini menambahkan, permintaan mesin belakangan datang dari luar Jawa. “Namun pemesanannya belum rutin,” ujarnya.

Pembuat mesin tali rafia lainnya adalah Dani Buldani pemilik CV Cahaya Tehnik di Cicalengka, Jawa Barat. Lelaki 32 tahun ini telah memproduksi mesin tali rafia sejak 2008 lalu. Menurut Dani, pemain bisnis ini masih sedikit. Selain itu, mesin tali rafia ini juga tidak diproduksi secara massal.

Namun, bagi Hadi maupun Dani mengingatkan, bagi konsumen yang ingin membeli mesin ini harus memesan terlebih dahulu. Pasalnya, pembuatan mesin memakan waktu selama satu minggu. Selain itu, pelanggan juga harus menyetor uang muka alias down payment sebesar 10% sampai 20% dari harga beli. “Setelah selesai, pelanggan kami beri tahu dan bisa mengirimkan biaya pelunasan. Setelah itu, mesin pun siap kami kirimkan,” tutur Dani.

Biasanya pelanggan Dani adalah pabrik pembuat tali rafia maupun toko grosir penjual aneka bahan plastik yang ada di Jabodetabek, Makassar, Batam. Medan, Kalimantan, Sulawesi, dan Pontianak.

Mesin pembuat tali rafia made in Dani ini dibanderol seharga Rp 40 juta, untuk mesin tali rafia ukuran kecil. Dan harga sebesar Rp 55 juta untuk satu unit mesin tali rafia besar. Dalam sebulan, Dani dengan dibantu sembilan karyawan sanggup menghasilkan hingga empat unit mesin.

Dengan begitu, omzet yang didulang pun mencapai Rp 100 juta per bulan. “Mesin buatan lokal ini memiliki cara kerja yang sama, menghasilkan kualitas yang sama dan tingkat keawetan yang sama dengan mesin impor meski harga jauh lebih murah,” pungkas Dani.

GREEN BUSINESS PENGOLAHAN LIMBAH PLASTIK JADI RAFIA
Mengikat laba dari limbah plastik yang menjadi tali rafia

Plastik adalah salah satu jenis sampah yang lama terurai oleh tanah. Namun, bagi orang yang jeli, sampah plastik yang mencemari lingkungan itu bisa menjadi pundi-pundi rupiah setelah diolah menjadi tali rafia. Selain ramah lingkungan, tali rafia dari sampah plastik itu mendatangkan omzet hampir Rp 500 juta per bulan.

Sebagian besar dari kita tentu tahu dan pernah mempergunakan tali rafia. Bahkan, bisa dibilang, tali rafia adalah tali yang paling sering kita gunakan untuk mengikat saat ini, dibanding dengan tali plastik atau tali tampar yang terbuat dari serabut kelapa.

Karena banyak digunakan itulah, tali rafia jelas punya nilai ekonomis yang tinggi. Namun, kalau kita telisik lebih jauh, tali rafia ini juga tergolong produk ramah lingkungan. Sebab, saat ini di pasaran ada tali rafia yang terbuat dari limbah plastik sisa pabrik atau limbah plastik sisa rumah tangga.

Tak percaya? Lihat saja yang dilakukan Lukas Subagio, pemilik usaha Mangun Wijaya Plastik asal Sidoarjo, Jawa Timur. Sejak 2002 silam, ia telah mendaur ulang limbah plastik itu untuk dijadikan tali rafia.

Lukas menjual tali rafia dari limbah itu dalam bentuk gelondongan. Biasanya, setelah sampai di tangan distributor, tali rafia dalam gulungan besar itu kemudian dikemas ke bentuk gulungan yang lebih kecil sebelum dilempar ke agen atau ke konsumen. “Mereka menjual kembali tali rafia itu dalam ukuran yang lebih kecil,” terang Lukas.

Tali rafia buatan Lukas itu tidak hanya dijual di sekitar Jawa Timur saja. Namun, sebagian besar lainnya telah menggelinding hingga ke Samarinda, Banjarmasin, Makassar, dan sampai Jayapura, Papua.

Namun, sebenarnya Lukas tidak menjual tali rafia dalam bentuk gulungan, namun kiloan. Harga tali rafia itu dibanderol mulai Rp 6.500 per kilogram (kg) hingga 13.500 per kg, tergantung kualitas.

Lukas menjelaskan, tali rafia berkualitas bagus produksinya bercirikan lembut, tipis, namun tetap kuat. “Kualitas menentukan harga jual,” terang Lukas.

Sedangkan tali rafia berkualitas sedang biasanya berwarna-warni, tebal, dan tidak mengilat. Adapun tali rafia berkualitas rendah memiliki ciri sama dengan tali rafia kualitas sedang, namun bedanya tali rafia kualitas rendah tidak memiliki variasi warna.

Karena berbahan baku dari limbah plastik, jelas Lukas, ia tak pernah kesulitan bahan baku. Ia secara rutin mendapat pasokan limbah plastik dari pengepul plastik bekas dari Surabaya.

Dari tangan pengepul, Lukas membeli limbah plastik itu seharga Rp 2.300–Rp 4.000 per kg, tergantung dari jenis plastik.

Menurut Lukas, plastik bekas terbaik untuk bahan baku tali rafia itu adalah limbah gelas plastik. Adapun limbah plastik kerupuk, plastik kapas, atau plastik bekas karung beras kualitasnya berada di bawah limbah plastik gelas.

Namun, Lukas ogah membeli limbah plastik yang dipulung dari tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Ia bilang, limbah plastik asal TPA memiliki aroma yang menyengat yang bisa mempengaruhi kualitas tali rafia.

Dalam memproduksi tali rafia dari limbah plastik itu, setidaknya butuh beberapa tahapan. Tahapan penting adalah pembuatan biji plastik dari campuran limbah plastik dengan polietilena (PE). Setelah itu baru tahapan pemanasan dengan oven kemudian proses cetak dengan mesin.

Lukas saat ini mampu memproduksi 2.400 kg tali rafia per hari. Seluruh produksi ia salurkan ke distributor dan agen. Dengan patokan harga Rp 6.500 per kg, Lukas setidaknya mengantongi omzet Rp 15,6 juta per hari atau Rp 468 juta per bulan.

Menurut Lukas, bisnis tali rafia tidak hanya menguntungkan dirinya saja, tetapi juga kepada pengepul limbah plastik, juga distributor, dan pedagang tali rafia. “Termasuk keuntungan untuk lingkungan,” terang Lukas.­ Ia memberi contoh, seorang agen tali rafia saja bisa mendapatkan laba Rp 1.000 dari penjualan satu kilogram tali rafia.

Pelaku bisnis lain yang mengolah limbah plastik menjadi tali rafia adalah Putranto, pemilik CV Dian Selaras di Tangerang, Banten. Sejak 2010 lalu, Putranto melihat adanya peluang bisnis tali rafia berbahan limbah plastik itu.

Dengan mengusung merek Cap Gajah, laki-laki yang kerap disapa Anton itu memiliki dua mesin produksi tali rafia masing-masing berkapasitas produksi sebanyak 6.000 kg per bulan. Sebagian besar produk tali rafia itu dijual Anton di Jakarta dan sebagian lainnya di Jawa. “Distribusi masih terbatas,” kata pria berusia 30 tahun itu.

Sama dengan Lukas, Anton juga tidak mengalami kesulitan untuk mencari bahan baku limbah plastik. Ia mendapatkan limbah plastik dari pengumpul limbah plastik di Tangerang. “Kesulitan ada pada kualitas limbah plastik yang ada di bawah kebutuhan standar,” katanya.

Namun begitu, ia berusaha untuk memaksimalkan sampah plastik yang berada di bawah kualitas standar itu. Dari kapasitas produksi 12.000 kg, Anton baru bisa produksi sebanyak 2.400 kg per bulan. “Pasar saya masih terbatas,” terang Anton.

Soal harga, Anton menjual tali rafia itu seharga Rp 8.500 per kg. Dalam sebulan Anton merengkuh omzet Rp 20 juta per bulan. “Margin keuntungan dari usaha ini cukup menarik, bisa 30% dari omzet,” ungkap Anton.

Sayang, Anton tidak bisa maksimal menjalankan bisnis karena jenis produknya masih sedikit. Namun, belakangan ini, ia sedang mempersiapkan jenis tali plastik spesifik untuk menjangkau segmen pasar tertentu. “Saya masih mempersiapkannya, karena tidak mudah untuk bersaing di Jakarta,” kata pria yang juga karyawan di salah satu perusahaan swasta itu.

Semakin erat ikatan tali, semakin lezat keuntungannya

Tali rafia memang hanya seutas tali untuk mengikat. Tapi, jangan salah, keuntungan yang diperoleh dari bisnis ini bisa berlipat. Proses produksi tali rafia juga cukup mudah. Bahan baku yang digunakan juga cukup mudah didapatkan.

Hampir setiap industri membutuhkan tali rafia untuk mengemas. Karena itu, bisnis pembuatan tali rafia selalu kebanjiran permintaan. Maklum, tidak hanya satu atau dua bidang bisnis yang menjadi pasar incaran dari para produsen tali rafia. Konsumennya juga dari pengguna rumahan sampai pengusaha pabrik.

Jumlah pengguna tali rafia yang cukup besar ini membuat nilai jual tali rafia masih tetap terjaga. Selain itu, beberapa produsen tali rafia juga meraup keuntungan. UD Nirwana Plastik, salah satu produsen tali rafia di Bogor, Jawa Barat, misalnya, mampu menghasilkan 20 ton tali setiap bulan.

Harga jual tali rafia antara Rp 7.500–Rp 8.500 per kilogram (kg), tergantung dari warna tali rafia tersebut. Sebagai contoh, harga tali rafia warna hitam Rp 7.500 per kg dan tali rafia warna lain Rp 8.500 per kg. Warna hitam jauh lebih murah lantaran tidak membutuhkan pewarna plastik.

Dewi Lestari, bagian pemasaran UD Nirwana Plastik, menjelaskan, karena harga lebih murah, permintaan tali rafia warna hitam jauh lebih banyak dari tali warna lain. “Penjualan tali rafia hitam mencapai 60% dari total penjualan, selebihnya warna lain,” tuturnya. Hitung punya hitung, total penjualan produsen ini bisa mencapai Rp 158 juta per bulan.

Kondisi serupa juga dialami oleh UD Dewi Sri yang berada di Surabaya, Jawa Timur. Penjualan tali rafia bisa mencapai 10 ton–15 ton per bulan. Harga jual produknya tidak jauh berbeda dengan Nirwana, yaitu di kisaran Rp 7.000–Rp 8.000 per kg, bergantung pada kualitas dan warna. “Harga jual tali rafia warna memang jauh lebih mahal,” tutur Setyo Sugianto, pemilik UD Dewi Sri. Tak heran, Setyo mengaku mengantongi omzet lumayan besar, rata-rata bisa Rp 100 juta–Rp 150 juta per bulan.

Marini, Manajer Pemasaran dan Produksi Sapta Sarana di Blitar, Jawa Timur, juga mengaku mendapatkan order yang cukup besar. Menurut dia, penjualan bisa mencapai 4 ton per bulan. Harga jual mulai Rp 7.650–Rp 8.000 per kg. Omzet yang mampu diraup Sapta Sarana bisa mencapai Rp 31 juta per bulan. “Bahan warnanya membuat harga tali rafia warna jauh lebih mahal,” papar Marini.

Pasar tali rafia luas

Para produsen tali rafia ini mengaku rata-rata menjual produknya ke distributor atau agen. Ada juga yang dibeli pabrik untuk pengemasan. Marini menjelaskan, rata-rata pembelinya adalah penjual telur. Maklum di Blitar, banyak penjual telur. Selain pemakai langsung, ada juga beberapa agen yang menjual tali rafia.

Penjualan tali rafia biasanya sistem gelondongan. Selanjutnya, distributor menjual secara ritel. Hanya sedikit produsen yang menjual ritel dengan kemasan kecil. “Penjualan dalam gulungan kecil-kecil seperti itu hanya untuk menambah pendapatan saja tapi itu pun tidak besar,” kata Setyo.

Kalaupun menjual dengan gulungan kecil-kecil, produsen biasanya langsung memasok ke pasar, bukan barang pesanan. Sebab, untuk mengemas tali rafia dalam bentuk gulungan kecil, butuh waktu dan tenaga. Karena itu, rata-rata produsen tali rafia melemparnya kembali ke distributor untuk menggulung dengan ukuran kecil.

Para produsen tali rafia menyatakan, permintaan tali rafia sudah mulai banyak berdatangan dari luar Jawa. Setyo memiliki konsumen dari Kalimantan dan Lombok. Nirwana Plastik juga sering mendapatkan permintaan dari Lampung, Palu, dan Palembang. Hanya saja, permintaan rutin paling banyak dari Jabotabek. Maklum, lokasi ini memang dekat dengan proses produksi.

Selain omzet yang cukup menggiurkan, keuntungan bersih yang mampu diperoleh juga lumayan. Rata-rata produsen mampu mengantongi margin bersih sekitar 20%–25%.

• Modal awal

Memulai bisnis ini sebenarnya cukup mudah. Anda tidak membutuhkan keahlian khusus. Sebab, peralatan yang wajib Anda miliki sudah bisa mengerjakan secara otomatis. Anda hanya membutuhkan beberapa karyawan untuk mengoperasikan mesin.

Ada dua tipe pembuatan tali rafia. Pertama, mulai mengolah biji plastik kemudian dijadikan tali rafia. Kedua, ada yang membeli biji plastik kemudian diolah menjadi tali rafia. Dua pola ini menentukan modal yang Anda butuhkan.

Produksi tali rafia yang mengolah sampah plastik menjadi biji plastik membutuhkan modal lebih besar. Maklum, mesin yang dibutuhkan juga lebih banyak. Nirwana Plastik mengaku membutuhkan tiga jenis mesin utama: mesin penghancur plastik, mesin pembuat biji plastik, dan mesin pembuat tali rafia.

Jelas, kalau harus membeli tiga mesin ini, modal yang harus disediakan cukup besar. Harga mesin penghancur plastik bisa sekitar Rp 10 juta. Adapun mesin pembuat biji plastik (pelet) sekitar Rp 25 juta per unit. Nah, harga mesin pembuat tali rafia sendiri sekitar Rp 60 juta–Rp 80 juta. “Tergantung kondisi mesinnya,” ujar Setyo.

Dalam sehari, satu mesin ini sebenarnya bisa menghasilkan 500 kg tali rafia. Syaratnya, karyawan bekerja dalam dua sif sehari, yaitu mulai jam 07.00 sampai 19.00, dilanjutkan dari 19.00 hingga 07.00. Tapi, rata-rata produsen menyesuaikan kapasitas produksi dengan permintaan. Artinya, mereka tidak selalu memaksimalkan kapasitas produksinya.

Kebutuhan lain yang perlu disiapkan berupa timbangan barang. Jika harus membuat biji plastik sendiri, Anda juga perlu menyiapkan blower pengering bahan baku. Total kebutuhan modal jenis usaha tali rafia dengan menghasilkan biji plastik diperkirakan sebesar Rp 150 juta, sudah termasuk pembelian bahan baku di awal usaha senilai Rp 30 juta.

Jika ingin lebih menghemat modal, Anda bisa memilih usaha tali rafia tanpa harus membuat biji plastik. Modalnya sekitar Rp 100 juta, sudah termasuk termasuk membeli bahan baku awal dengan nilai sekitar Rp 30 juta.

Sebaliknya, modal menjadi lebih besar lagi jika Anda ingin memproduksi tali rafia dalam gulungan kecil. Sebab, Anda mesti membeli mesin gulung rafia ukuran kecil seharga Rp 3,5 juta–Rp 6 juta per unit.

• Proses pembuatan

Cara membuat tali rafia sebenarnya hanyalah mengolah biji plastik dalam sebuah mesin sehingga menghasilkan tali rafia. Jika Anda memulai dari pembuatan biji plastik, Anda harus mencacah sampah plastik berupa botol plastik, atau sampah plastik yang lain. Hasil cacahan masuk ke mesin pemeletan yang akan menghasilkan biji plastik.

Biji plastik yang sudah dalam kondisi kering lantas diproses dan dimasukkan ke mesin pembuatan tali rafia. Mesin akan mengolah secara otomatis dari biji plastik menjadi tali rafia. “Di mesin tersebut ada sistem pemanasan yang membuat biji plastik menjadi lembaran tali,” kata Setyo.

• Karyawan

Jumlah karyawan yang dibutuhkan dalam pembuatan tali rafia ini tidak banyak. Jika memulai dari mengolah biji plastik, menurut Setyo, Anda cukup mempekerjakan dua hingga tiga karyawan. “Dua orang memegang mesin cetak rafia dan mesin penggulung rafia,” kata dia. Seorang lagi di bagian pengemasan. Tapi, jumlah karyawan bisa bertambah jika kapasitas produksi terus meningkat. Selain menerapkan sistem shif, bisa saja Anda menambah mesin produksi.

Sistem pembayaran karyawan bisa menggunakan sistem borongan atau harian. Setyo misalnya, membayar karyawan dengan sistem harian, yaitu Rp 45.000 per hari. Atau berdasarkan volume seperti Marini di Blitar yang membayar pegawai Rp 175 per kg. Kalau Dewi, membayar Rp 500 per kg.

sumber

http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1324274846/85551/Semakin-erat-ikatan-tali-semakin-lezat-keuntungannya-

http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1317631295/78936/Mengikat-laba-dari-limbah-plastik-yang-menjadi-tali-rafia-

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tag

Bijak pakai kartu kredit
Share8
dibaca sebanyak 2188 kali
0 Komentar

JAKARTA. Marak tawaran kartu kredit dan kemudahan dalam mengajukan aplikasi kartu kredit membuat masyarakat ingin memiliki kartu kredit. Katanya, kalau sekarang tidak punya kartu kredit berarti ketinggalan zaman. Namun, seseorang yang memiliki kartu kredit sebaiknya telah paham dengan hak dan kewajiban sebagai pemegang kartu kredit.

Beberapa keuntungan atau hak yang didapatkan pemegang kartu kredit: 1. Diskon di merchant tertentu; 2. Bunga 0% untuk pembelian barang atau jasa tertentu; 3. Tak perlu membawa uang kas dalam jumlah banyak; 4. Mengetahui besar bunga kartu kredit untuk belanja 3,25% – 3,5% per bulan (39%–42% per tahun) dan bunga tarik tunai 4% per bulan atau 48% per tahun; 5. Mendapatkan informasi tagihan secara lengkap, akurat, dan informatif dan dilakukan secara benar dan tepat waktu.

Sedangkan kewajiban pemegang kartu kredit adalah: 1. Membayar annual fee; 2. Melunasi tagihan sebelum jatuh tempo; 3. Membayar bunga kartu kredit jika nasabah tidak melunasi tagihannya sebelum jatuh tempo; 4. Membayar bunga atas biaya meterai; 5. Membayar biaya keterlambatan atau penalti.

Jika nasabah mengetahui hak dan kewajibannya sebagai pemegang kartu, niscaya nasabah tidak akan mengalami kesulitan dalam pembayaran tagihan kartu kreditnya. Tapi sebagian masyarakat kita telanjur mempersepsikan kartu kredit sebagai kartu utang, bukan sebagai kartu plastik yang dapat digunakan untuk memudahkan pembayaran. Perilaku nasabah yang seperti ini menjadikan utangnya semakin menumpuk dan kesulitan dalam melakukan pelunasan.

Pastikan punya dana

Sejatinya kartu kredit adalah pinjaman berisiko tinggi karena tidak melalui syarat pinjaman yang lazim berlaku, seperti tanpa memiliki jaminan dan proses yang mudah. Oleh karena itu, bank mengenakan bunga cukup tinggi sebagai kompensasi jika terjadi write off akibat gagal bayar.

Bank penerbit kartu terkadang tidak transparan atas pengenaan bunga kartu kredit, bahkan bank bisa menerapkan metode perhitungan bunga berbunga atau compounding interest. Jika metode itu yang digunakan maka akhirnya saldo utang nasabah akan kian besar.

Agar tak bermasalah dengan kartu kredit, berikut hal-hal yang harus Anda perhatikan:

1. Pastikan jika menggunakan kartu kredit, Anda sudah mempunyai saldo yang cukup untuk melakukan pembelanjaan kartu kredit tersebut. Jangan sampai Anda sebenarnya tidak punya uang tapi memaksa belanja dengan memakai kartu kredit.

2. Pastikan Anda membayar lunas dan sebelum jatuh tempo tagihan kartu kredit Anda. Dengan begitu, Anda tak akan terkena bunga atas tagihan Anda.

3. Jika Anda tak dapat membayar lunas beberapa tagihan kartu kredit Anda, sebaiknya stop pemakaian kartu kredit itu. Selanjutnya cepat lunasi beban tersebut atau bayar secara bertahap kartu kredit yang bunganya tertinggi atau yang tagihannya paling besar jika bunganya sama. Perlu diperhatikan, pembayaran ini harus di atas pembayaran minimal dan dengan jumlah yang sama tiap bulan sampai lunas.

Selain itu, ada beberapa prinsip penting yang Anda gunakan ketika memang terpaksa harus berutang:

1. Gunakan utang untuk kebutuhan produktif, bukan konsumtif. Utang produktif adalah utang yang digunakan untuk membeli aset yang akan meningkat nilainya seiring berjalannya waktu, atau aset tersebut akan menghasilkan pendapatan yang sama atau lebih besar daripada cicilan utang. Contoh, kredit pemilikan rumah (KPR), kepemilikan logam mulia (KLM), dan kredit kendaraan bermotor (KKB).

2. Rasio cicilan utang sebaiknya tak melebihi 35% dari penghasilan utama pencari nafkah (bukan penghasilan gabungan suami + istri). Contoh, penghasilan suami Rp 8 juta, penghasilan istri Rp 5 juta. Total penghasilan Rp 13 juta. Maka, idealnya nilai utang maksimal Rp 2,8 juta (35% x Rp 8 juta), bukan Rp 4,55 juta (35% x Rp 13 juta). Sebab, jika suatu waktu istri tak dapat bekerja lagi karena hamil atau PHK, utang tidak membebani keuangan keluarga.

3. Gunakan kartu kredit untuk kemudahan transaksi bukan untuk kartu utang. Sebab, Anda akan membeli barang/jasa lebih mahal 1,5 kali lipatnya jika Anda mencicilnya selama 1 tahun.

4. Jangan menukar utang kartu kredit atau utang tanpa jaminan dengan utang yang menggunakan jaminan. Utang dengan jaminan memiliki konsekuensi Anda akan kehilangan aset jika Anda tidak dapat membayar utang-utang Anda.

Masih berpikir untuk berhutang? Gunakan utang Anda untuk hal produktif.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tag , , , , ,

Interfood Indonesia 2011

Bertempat di Jakarta International EXPO, Kemayoran pada tanggal 29 September ini akan diselenggarakan even Interfood, sebuah pameran F&B Industry dan Hospitality Business dalam skala yang cukup besar. Beberapa peserta pameran dimerupakan pelaku industri di dunia kopi dan sebagian besar perusahaan kopi yang pernah saya tulis di sini berencana untuk membuka stand pameran di sana. Skalanya lebih kecil dibanding dengan FHI, tetapi biasanya pameran seperti ini selalu ada hal yang menarik. Pameran akan berakhir hingga tanggal 2 Oktober 2011.

29 September – 02 October 2011

INTERFOOD INDONESIA 2011
Venue : JIExpo, Kemayoran. Jakarta

The 11th International Exhibition on Food & Beverage Products, Technology, Ingredients, Additives,
Raw Materials, Services, Equipment, Supplies.

FEATURING :

Bakery & Confectionery [Bakery Indonesia], (Bakery & Confectionery, Machinery, Equipments, Supplies, Ingredients).
Food & Hospitality, (Wine & Spirits, Equipments, Supplies, Storage, Services & Related Technology for Hotel, Catering, Restaurant, Cafe, Supermarket).
Food Ingredients, (Food Additives, Food Chemicals, Food Ingredients, Food Materials). Herbal & Health Food, (Herbal & Health Food and Food Supplments). Retail & Franchising, (Franchising & Licensing).
Web Interfood : http://interfood-indonesia.com/

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

7 Tips Bisnis dari Rheinald Khasali

7 Tips Bisnis dari Rheinald Khasali
KOMPAS.com – Dalam buku terbarunya, Wirausaha Muda Mandiri, Rheinald Khasali merangkum pengalaman beberapa wirausaha muda sukses. Termasuk tip sukses mereka. Silakan simak, siapa tahu Anda bisa belajar darinya.

1. Nikmati indahnya berpikir kreatif
Menjadi kreatif berarti selalu membuka pintu dan mengeksplorasi pilihan-pilihan. Seperti kata John C Maxwell, “Bakat saja tidak cukup. IQ juga tidak. Semua baru menjadi potensi, dan setiap potensi perlu menemukan pintunya.” Caranya? Berani mencoba.

2. Kekuatan kesederhanaan
Tip ini berasal dari pengalaaman sukses Firmansyah Budi Prasetyo, pemilik Tella Krezz. Ia berhasil menaikkan gengsi singkong menjadi sama dengan french fries dan snack impor lainnya. Kunci sukses para pemikir sederhana, mereka mengerjakan hal-hal yang sudah dikenali dan akrabi sejak kecil.

3. Carilah struktur biaya yang rendah
Menurut Rheinald Khasali, berwirausaha bukan bergaya hidup. Kalau bergaya hidup Anda
menghabiskan uang. Dalam wirausaha Anda mengurangi pengeluaran dan mendatangkan penghasilan. Dengan pola pikir ini, maka bisnis yang dijalankan akan membawa untung.

4. Gunakan teknologi, jangkau sebanyak sebanyak mungkin orang
Saat ini bila Anda gagap teknologi maka akan rugi. Pasalnya, dengan teknologi, pemasaran produk akan menyebar pada banyak orang tanpa mengeluarkan biaya. Dengan Twitter, Facebook, situs, atau blog, promosi akan menyebar dalam hitungan menit.

5. Tiupkan ruh pada brand Anda
Artinya memberi kekuatan dan nyawa pada brand agar bisa bergerak sendiri, hidup dan berdaya. Brand Anda adalah karakter Anda, jadi jangan berkompromi pada hal-hal yang bisa merusak reputasi dan karakter Anda, karena akan berpengaruh pada brand. Buatkan story telling tentang brand Anda, biasanya orang suka pada kisah di balik sebuah produk.

6. Entrepreneurship DNA
Jangan percaya pada mitos, bahwa orang Padang jago berdagang, atau orang China pandai berbisnis. Semua orang bisa berbisnis dan memiliki entrepreneurship DNA. Caranya dengan meluaskan pengetahuan, banyak bergaul dengan pengusaha sukses yang beretika, dan bekerja keras.

7. Bersahabat dengan ketidakpastian
Dalam bisnis sering terjadi ketidakpastian, bahkan bisnis dianggap kegiatan berselancar di antara gelombang ketidakpastian. Ketidakpastian terjadi bila kita tidak mengenali sesuatu, jadi cara mengatasinya tak lain bersahabat dengan ketidakpastian itu. Cari data dan informasi, sampai Anda mengenali ketidakpastian itu serta risikonya.

(Majalah CHIC/Erika Paula)

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tag